Banner Berdiri Dalam Berita 2
Banner Berdiri Dalam Berita 2
banner 700x256

Polres Ponorogo Lakukan Langkah Strategis untuk Redam Isu

Favicon
Pakar Komunikasi Stikosa AWS Dr. Dwi Prasetyo S.Sos . M.PSDM
Pakar Komunikasi Stikosa AWS, Dr. Dwi Prasetyo, S.Sos., M.PSDM
banner 120x600
banner 336x280

Surabaya – News PATROLI.COM –

Pemilu 2024 sudah di depan mata. Sejumlah langkah strategis dilakukan untuk menjaga kondusifitas hingga menciptakan Pemilu Damai.

Seperti yang dilakukan Polres Ponorogo dengan mengunjungi Ponpes Fathul Muna Mladangan, Polri yang menggandengan Ustad Das’ad Latif, dan masih banyak lagi.

Menanggapi langkah ini, pakar komunikasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS), Dr. Dwi Prasetyo, S.Sos., M.PSDM. mengatakan, komunikasi pihak kepolisian dengan ulama dan tokoh masyarakat menjadi langkah yang patut di apresiasi.

“Pemilihan Umum adalah periode kritis di mana tingkat ketegangan sosial dan potensi konflik dapat meningkat. Melibatkan ulama dan tokoh masyarakat dalam komunikasi dapat membantu meminimalkan risiko konflik dan gangguan selama proses Pemilu,” jelas Dwi Prasetyo di Kampus Stikosa AWS, Surabaya, Jumat (6/10/2023).

Wakil Ketua I Stikosa AWS ini juga mengatakan, ketika ulama dan tokoh masyarakat mendukung upaya kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama Pemilu, hal ini dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap aparat kepolisian.

Baca juga : Kecanduan Judi Online, Pria Asal Buleleng Nekat Mencuri Uang di Tempat Laundry

“Ini penting untuk memastikan kerjasama dan partisipasi masyarakat dalam menjaga ketertiban,” tegasnya.

Lewat proses komunikasi ini pihak kepolisian juga berpeluang untuk memperoleh dukungan publik. Dukungan dari tokoh agama dan masyarakat, kata Dwi Prasetyo, dapat membantu polisi dalam meredam potensi gangguan selama Pemilu.

“Mereka dapat membantu dalam menyuarakan pesan-pesan penting terkait perdamaian dan ketertiban selama proses Pemilu,” katanya. “Di Indonesia, faktor agama sering menjadi salah satu sumber potensi konflik. Melibatkan ulama dalam komunikasi dapat membantu mencegah penyalahgunaan agama untuk tujuan politik dan menjaga stabilitas,” tambah Dwi Prasetyo.

Komunikasi yang baik dengan ulama dan tokoh masyarakat, menurutnya, adalah bagian dari pendekatan yang demokratis dalam menjalankan Pemilu. Ini menunjukkan bahwa kepolisian menghormati beragam pandangan dan bersedia berkomunikasi dengan berbagai elemen masyarakat. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *