Sidoarjo – News PATROLI.COM –
Festival Tanah Air 2025 hadir kembali sebagai ruang bermain sekaligus ruang belajar yang menghangatkan hati. (22/11/2025). Bertempat di Kebon Gayam, Kampung Lali Gadget, yang juga merupakan lokasi binaan TJSL PLN, yakni program tanggung jawab sosial dan lingkungan PLN yang mendukung ruang edukasi masyarakat serta berkontribusi pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs), ratusan anak dari berbagai sekolah serta komunitas lintas agama dan budaya berkumpul dalam satu perayaan yang menghidupkan kembali semangat persatuan dan cinta tanah air. Sejak pagi, wajah-wajah ceria langsung memenuhi area acara, di sana anak-anak saling menyapa, berkumpul, dan bernyanyi bersama tanpa memandang perbedaan.
Acara dimulai dengan permainan dan tembang dolanan yang mempertemukan anak-anak dengan perwakilan berbagai profesi, yaitu dokter, seniman pelukis, petani, pemadam kebakaran, TNI AL, polisi, pembudidaya ikan, hingga PLN. Mereka duduk melingkar, bermain bersama, dan membangun keakraban sejak awal. Momen sederhana ini menjadi pengantar yang manis untuk menunjukkan kepada anak-anak bahwa Indonesia adalah rumah yang penuh warna dan keberagaman.
Usai pembukaan, anak-anak memasuki sesi Kelas Inspirasi, di mana setiap profesi menempati pos masing-masing untuk berbagi pengalaman. Di pos Damkar, anak-anak belajar bahwa tugas pemadam kebakaran bukan hanya memadamkan api, tetapi juga melakukan penyelamatan, edukasi mitigasi, hingga pengenalan alat seperti APAR. Anak-anak tampak penuh rasa ingin tahu, bertanya, mencoba, dan belajar.

Di pos PLN, antusiasme yang sama juga terlihat. Melalui pendekatan sederhana dan interaktif, tim PLN UP3 Sidoarjo mengajarkan tentang bahaya listrik, cara menggunakan listrik dengan aman, serta bagaimana listrik bisa sampai ke rumah. Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID jatim, Dana Puspita Sari, turut memberikan pesan khusus kepada para peserta. Ia mengatakan, “Kami ingin anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa listrik itu bermanfaat, tetapi juga harus digunakan dengan aman. Edukasi keselamatan seperti ini sangat penting agar mereka bisa menjaga diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sejak dini.”
Sementara itu, Ketua Yayasan Kampung Lali Gadget, Achmad Irfandi, menyampaikan harapannya terhadap kegiatan ini. Ia menegaskan pentingnya ruang seperti Festival Tanah Air sebagai jembatan persatuan. “Anak-anak perlu merasakan sendiri bahwa perbedaan itu indah dan justru membuat kita kuat. Melalui bermain, mereka belajar tentang toleransi dan kebersamaan tanpa harus diajari dengan ceramah. Mereka mengalaminya langsung,” ujarnya.
Ia kemudian menambahkan tentang keunggulan Kampung Lali Gadget sebagai ruang tumbuh yang unik. “Di sini anak-anak bisa bermain bebas tanpa terdistraksi gadget. Mereka kembali terhubung dengan alam, dengan teman-temannya, dan dengan dirinya sendiri. Itulah nilai utama Kampung Lali Gadget, yaitu mengembalikan kegembiraan bermain yang sesungguhnya,” tambah Irfandi.
Setelah belajar dari berbagai profesi, anak-anak memasuki sesi Main Tanah dan Air, salah satu bagian paling ditunggu. Seret gedebog, tarik tambang, dan menangkap ikan di lumpur membuat mereka tertawa lepas. Meski tubuh penuh lumpur, wajah-wajah kecil itu memancarkan kebahagiaan. Permainan ini menjadi simbol bahwa tanah dan air adalah identitas bersama yang menyatukan semua anak Indonesia.
Menjelang penutupan, anak-anak menuliskan harapan mereka untuk Indonesia di kertas merah dan putih. Harapan-harapan itu ditempel hingga membentuk kolase bendera Merah Putih yang besar. Dari “Ingin Indonesia damai” hingga “Semua orang harus saling menghargai,” tulisan-tulisan polos itu mencerminkan mimpi jujur generasi masa depan.
Festival Tanah Air 2025 kembali membuktikan bahwa bermain bisa menjadi jembatan persatuan, sekaligus cara menanamkan nilai kebangsaan sejak dini. Berkat kolaborasi berbagai pihak, mulai dari PLN UID Jawa Timur, Bakesbangpol Sidoarjo, FKUB/Gusdurian, hingga komunitas lintas agama dan budaya, acara ini berhasil menjadi ruang yang menyatukan, menghangatkan, dan memberi harapan.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, Festival Tanah Air menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa akan selalu cerah ketika anak-anaknya tumbuh dengan cinta tanah air, saling memahami, dan bangga atas keberagaman yang dimiliki Indonesia. (Gus)










