Jember  

Alami Pendangkalan Parah, Nelayan Puger Gandeng HNSI Desak Pemerintah Segera Normalisasi Sedimen Plawangan

banner 120x600
banner 336x280

Jember – News PATROLI.COM –

Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jember, Jawa Timur beserta Ratusan nelayan Puger di kawasan mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera mengatasi masalah pendangkalan sungai yang kian parah.

Jika dibiarkan berkepanjangan berdampak pada aktivitas melaut para nelayan lumpuh dan memicu kerugian ekonomi yang cukup besar.

Pantauan di lokasi menunjukkan, sedimentasi pasir telah membentuk daratan baru di beberapa titik aliran sungai Bedadung.

Akibatnya, jalur utama yang menghubungkan Sungai menuju laut kini hanya menyisakan kedalaman kurang dari satu meter hingga dua meter saat air surut, apabila lagi saat musim kemarau.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jember, mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa tahun tanpa ada penanganan serius dari pihak berwenang.

“Sebenarnya hari ini adalah puncak dari kegelisahan nelayan beberapa tahun yang lalu bisa tersalurkan hari ini dimana ada masalah pendangkalan di muara sungai Bedadung extrim, ini dampak dari El Nino yang volume atau debit air terus menurun dan saat ini mencapai titik klimaks paling parah tahun ini. Kejadian ini merupakan kejadian disetiap tahunnya, karena itu nelayan ini bersuara melalui dinas terkait, melalui pemangku kepentingan dan juga diterjemahkan artinya sudah diterima apa yang disampaikan tadi, harapannya nelayan apa yang disampaikan tadi untuk bisa disegerakan diselesaikan karena itu prioritas karena sedimentasi yang luar biasa yang mengganggu lalulintas kapal keluar masuk yang berpotensi konflik horisontal antar nelayan karena berebut,”  jelas Sikan selaku ketua HNSI Jember, Senin, 28/09/2026.

Menurutnya, Sidementasi timbul ketika  musim hujan disertai banjir dari hulu yang luar biasa membawa material, Barongan bambu, dan lainnya sehingga terjadi penumpukan di muara sungai Bedadung, para nelayan menuntut lewat HNSI hal ini harus segera diselesaikan.

“Sedimentasi timbul yang pertama ketika musim hujan ini banjir luar biasa, membawa material ada barongan dan macem- macem ya numpuknya disini dan ini terjadi Sampek dua puluh tahun belum ada kegiatan yang namanya normalisasi pengerukan. Bisa dibayangkan kalau ini terjadi satu tahun kedepan ini akan nutup, artinya tidak ada lagi akses keluar masuk nelayan melalui pintu Plawangan, karena sedimentasinya sudah luar biasa kalau tidak disegerakan sehingga inilah yang menjadi tuntutan nelayan dari awal yang menjadi persoalan yang mengganggu lalulintas nelayan atau kacuk dari bahasa mereka,” tuturnya

Baca juga :  SDN Jember Lor 01 Mendapatkan Role Model 1 Sekolah Moderasi Beragama (SMB) Dan Role Model 3 School Religius Culture (SRC).

Lebih lanjut Sikan mengatakan, dari beberapa titik sedimentasi, satu titik Sidementasi yang dibutuhkan nelayan Puger untuk segera dilakukan pengerukan, karena satu titik tersebut akses keluar masuknya nelayan pergi dan pulang melaut.

“Kalau hari ini prioritas satu titik, karena ini sangat-sangat mendesak dibutuhkan dan segera dilakukan kegiatan, karena ini mengganggu keluar masuknya ini sempit, kalau sudah terganggu mereka terburu-buru pulang yang satu terburu-buru berangkat sehingga terjadi benturan, ini dampak yang paling serius kalau dibiarkan terus menerus, nah ini yang menjadi perhatian khusus untuk segera dilakukan pengerukan,” imbuhnya.

Pertemuan yang digelar di Aula UPTP3 Puger yang dihadiri oleh, UPT Pengelolaan Sumber Daya Air (P SDA) Lumajang. Mewakili dinas PU SDA Jawa Timur, UPTP3 Puger (mewakili dinas perikanan Jawa Timur, Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan Jember, Muspika Plus Puger(camat, kapolsek, danramil, danpos AL, danposmar puter nusabarong, kasatpol air polres jember, kades Puger kulon, kades pugerwetan, kades lojajer, Himpunan Pengusaha Perikanan Puger, tokoh nelayan Puger.

Tuntutan Nelayan Puger mendapat jawaban normatif  dan tidak ada timeline yang jelas dari pihak berwenang, nelayan Puger akan melakukan langkah kongkrit kedepan dan ada target waktu jika hal itu tidak segera dilakukan sebelum musim hujan tiba.

“Pertemuan tadi Normatif artinya tidak ada  timeline yang jelas, karena itulah kita melakukan langkah-langkah yang kedepannya bagaimana kita timeline ini menjadi jelas ada target waktu. Harapannya nelayan kan ndak terlalu lama, jangan sampek musim hujan dilakukan kan percuma, momen inilah yang diharapkan untuk segera dilakukan, ini  kan darurat dan tidak perlu ada kegiatan besar tapi manfaatnya besar dan ini yang kami lakukan dipertemuan hari ini bahkan hal ini akan kami lakukan Audiensi ke Gubernur.” pungkasnya .

Hingga berita ini diturunkan, pihak yang berwenang belum memberikan respons resmi terkait tuntutan para nelayan tersebut. Namun, Nelayan mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar jika keluhan mereka terus diabaikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *