Sidoarjo – News PATROLI.COM –
Pemerintah Desa (Pemdes) Sidokepung, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, terus berkomitmen melestarikan tradisi leluhur melalui kegiatan tasyakuran dan tumpengan yang digelar secara rutin setiap malam Jumat Legi. Selain menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan berkah, keselamatan, dan ketenteraman, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta menjaga kerukunan masyarakat.
Tradisi yang penuh nilai spiritual dan budaya itu dilaksanakan di Pendopo Agung Makam Mbah Sapu Jagad, Desa Sidokepung, Kamis (15/10/2026). Kegiatan dipimpin langsung Kepala Desa Sidokepung, Arintono, bersama juru kunci makam Mbah Sapu Jagat, Choirul Anam, serta diikuti perangkat desa dan warga setempat.
Suasana kebersamaan mewarnai pelaksanaan tasyakuran yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Sidokepung tersebut. Melalui doa bersama dan penyajian tumpeng, warga memanjatkan rasa syukur sekaligus memohon agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, rezeki yang halal dan barokah, serta kehidupan yang tenteram, damai, dan harmonis.
Bagi masyarakat Sidokepung, tasyakuran ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Tradisi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para pendahulu agar tetap hidup, terpelihara, dan dikenal oleh generasi penerus.
Kepala Desa Sidokepung, Arintono, mengatakan bahwa pelaksanaan tasyakuran merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan keberkahan yang telah diberikan kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah desa bersama warga juga memanjatkan doa untuk kebaikan dan keselamatan seluruh masyarakat.
“Melalui tasyakuran ini, kami memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala berkah yang diberikan. Kami juga berdoa agar masyarakat Sidokepung senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, rezeki yang halal dan barokah, serta kehidupan yang adem ayem, tenteram, dan rukun,” ungkap Arintono.
Menurutnya, malam Jumat Legi merupakan bagian dari adat pribadinya yang telah dijalankan sejak dahulu. Karena itu, keberlangsungan tradisi tersebut perlu dijaga bersama agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Arintono menegaskan, pelestarian budaya lokal merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah desa, melainkan juga seluruh elemen masyarakat. Dengan menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, masyarakat diharapkan tetap memiliki ikatan kuat dengan sejarah dan identitas desanya.
“Kami ingin meneruskan tradisi yang sudah ada sejak dahulu sebagai bentuk uri-uri budaya peninggalan para pendahulu, termasuk tradisi yang berkaitan dengan Mbah Sapujagad,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tumpeng yang disajikan dalam kegiatan tasyakuran memiliki makna simbolis sebagai ungkapan rasa syukur. Sementara itu, kebersamaan warga dalam mengikuti kegiatan tersebut mencerminkan semangat gotong royong, persatuan, kepedulian, dan kerukunan yang harus terus dirawat dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih dari sekadar menjaga tradisi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat. Melalui pertemuan rutin yang melibatkan perangkat desa dan warga, komunikasi serta silaturahmi diharapkan semakin erat sehingga tercipta lingkungan sosial yang harmonis.
“Harapan kami, melalui kegiatan ini, silaturahmi antarwarga semakin erat, masyarakat semakin rukun, dan hubungan antara pemerintah desa dengan warga semakin harmonis,” jelasnya.
Arintono menilai, kemajuan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur maupun peningkatan pelayanan pemerintahan. Lebih dari itu, kemajuan desa juga membutuhkan kekuatan hubungan sosial, keterbukaan pemerintah desa, serta partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung setiap program pembangunan.
Menurutnya, pemerintah desa tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan kemajuan wilayah. Dukungan, masukan, dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar pembangunan berjalan sesuai kebutuhan warga dan manfaatnya dapat dirasakan secara bersama-sama.
“Kami berharap ke depan Desa Sidokepung menjadi desa yang semakin baik, transparan, guyub rukun, dan selalu mengedepankan kebersamaan. Pemerintah desa tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, sinergi dengan masyarakat sangat penting agar pembangunan dapat berjalan dengan baik dan hasilnya dirasakan bersama,” tegasnya.
Ia berharap nilai-nilai kebersamaan yang terbangun melalui tradisi tasyakuran dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mendukung program pembangunan dan menjaga kondusivitas lingkungan desa.
Dengan demikian, tradisi budaya tidak hanya menjadi bagian dari peninggalan masa lalu, tetapi juga memiliki peran penting dalam memperkuat kehidupan sosial masyarakat pada masa kini.
Dalam doa bersama yang dipanjatkan, masyarakat juga memohon agar senantiasa diberikan rezeki yang halal dan barokah, sehingga membawa manfaat bagi keluarga hingga anak cucu. Harapan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual warga untuk mewujudkan kehidupan yang lebih sejahtera, harmonis, dan penuh keberkahan.
Bagi masyarakat Sidokepung, kehidupan yang tenteram dan damai perlu dijaga melalui keseimbangan antara ikhtiar, doa, serta hubungan sosial yang baik. Kerukunan antarwarga menjadi modal penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung kesejahteraan bersama.
Pelaksanaan tasyakuran di Pendopo Agung Makam Mbah Sapu Jagad juga menjadi pengingat akan pentingnya menghormati sejarah serta menjaga warisan budaya lokal. Keberadaan tradisi tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat terhadap identitas desa sekaligus menumbuhkan kepedulian untuk merawat peninggalan para pendahulu.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, generasi muda memiliki peran penting dalam meneruskan tradisi dan memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Pengenalan budaya lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan agar warisan tersebut tidak sekadar dikenang, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Konsistensi Pemdes Sidokepung bersama warga dalam melaksanakan tasyakuran setiap malam Jumat Legi menunjukkan adanya komitmen untuk menjaga kesinambungan tradisi. Keterlibatan perangkat desa, juru kunci makam, dan masyarakat menjadi wujud kebersamaan dalam mempertahankan nilai budaya yang telah mengakar di lingkungan setempat.
Melalui kegiatan uri-uri budaya ini, Pemdes Sidokepung berupaya menjaga tradisi leluhur sekaligus memperkuat nilai religius, gotong royong, dan kerukunan masyarakat. Tradisi tersebut juga menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan pemerintah desa dan warga dalam suasana kekeluargaan.
Arintono berharap tradisi tasyakuran malam Jumat Legi dapat terus dilaksanakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan dukungan seluruh masyarakat, nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta rasa syukur kepada Allah SWT diharapkan tetap terjaga.
Pada akhirnya, pelestarian tradisi tasyakuran di Pendopo Agung Makam Mbah Sapu Jagad bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat Desa Sidokepung dalam merawat identitas budaya, mempererat persaudaraan, dan membangun kehidupan desa yang semakin guyub, rukun, tenteram, serta penuh keberkahan. (Gus)











