banner 700x256

Bupati Ikfina didampingi Camat Masluchman dan Kades Zainal Abidin Meninjau Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan di Desa Klinterejo

banner 120x600
banner 336x280

MOJOKERTO, Newspatroli.com

Bupati Mojokerto.dr. Ikfina Fahmawati di didampingi Camat Sooko Masluchman SH M.Si, dan Kades Klinterejo Zainal Abidin, SH, Jum’at ( 22/ 10 / 2021 ) Meninjau Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan di Desa Klinterejo Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto tahap empat yang berlangsung hingga 22 Oktober 2021. Di awal ekskavasi, tim menemukan batu astadikpalaka yang menjadi bukti kuat bangunan kuno tersebut merupakan tempat suci jaman Kerajaan Majapahit.

Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) , Mbak Yuni menjelaskan bahwa ekskavasi kali ini bukan hanya bertujuan untuk menggali potensi struktur candi. Namun, sekaligus pada aspek pengembangan dan pemanfaatan situs bagi masyarakat.

Sebab, Sejauh ini tim ekskavasi telah menemukan 7 dari 8 batu astadikpalaka. Yaitu di sisi timur, tenggara, selatan, barat daya, barat laut, utara dan timur laut. Satu batu relief kemungkinan ada di sisi barat di bagian tangga yang belum kami gali sampai sekarang.
Batu berelief pada kaki candi yang dipasang sesuai 8 arah mata angin, pada permukaan masing-masing batu astadikpalaka terdapat ukiran simbol Dewa penjaga 8 mata angin dalam kepercayaan Hindu. Dari beberapa kajian bangunan suci pada masa klasik, jika terdapat batu astadikpalaka maka bangunan tersebut bisa diyakini sebagai bangunan suci untuk proses pemujaan.
Jika Mengacu pada data primer yakni batu angka tahun yang ada di situs, diprediksi Bhre Kahuripan tersebut dibangun pada masa Ratu Tribuana Tungga Dewi. Di Yoni dituliskan tahun 1294 Saka atau 1371 Masehi. Kalau ditarik ke masa pemerintahan Majapahit saat itu, yaitu pada masa Tribuana Tungga Dewi, raja ketiga Majapahit.

Pihak BPCB akan meneliti lebih lanjut relief pada setiap batu. Karena hal tersebut merupakan ciri khas, setiap penjuru memiliki penjaga masing-masing sehingga bangunan itu secara magis spiritual adalah suci. Hasil penggalian situs pada tahun lalu itu turut menyumbang temuan baru pada struktur situs yang juga disebut Watu Ombo itu.
Yakni struktur situs yang bervariasi. Salah satunya struktur situs yang didapati di tengah situs yang berukuran 14 meter persegi. Menariknya, di setiap struktur itu terdapat relief astadikpalaka. Batu itu ada di setiap sudut struktur dan di tengah-tengahnya. Jadi di empat sudut itu dan di antara setiap sudut itu ada lagi, ada satu lagi di bagian tangga.

Baca juga :  Bertamasya Sambil Petik Buah di Kebun Alpukat Wonocolo Kabupaten Bojonegoro

Adanya temuan relief astadikpala erat kaitannya dengan bangunan suci pada masa klasik. Menurut Arkeolog BPCB Jawa Timur ini, adanya relief tersebut menguak fungsi dari situs Bhre Kahuripan yang merupakan bangunan suci untuk pemujaan. Kuat dugaan Bhre Kahuripan merupakan candi untuk pemujaan pada masa Ratu Tribuana Tungga Dewi.

Dan, Dilihat dari hasil kajiannya seperti itu, tapi pemujaan untuk siapa? Apakah untuk pemujaan sang ratu (Tribuana Tungga Dewi)? bisa saja begitu. Tapi masih perlu kita cari lagi data penguatnya. Beberapa menyebutkan, candi itu jadi ranah pemujaan ketika raja sudah wafat 12 tahun setelahnya.
Sementara itu Kepala Desa Klinterejo Zainal Abidin menjelaskan bahwa
Situs purbakala ini terletak di tengah persawahan Dusun Klinterejo, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Situs ini seluas 14×14 meter persegi terbuat dari susunan potongan batu andesit. Jalan masuknya berupa tangga batu di sisi barat yang berundak menuju ke puncak candi.

Terdapat batu yoni berdimensi 191x184x121 cm di puncak dan di permukaan barat terdapat ukiran angka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi. Angka tahun yang menggunakan aksara Jawa Kuno tersebut diyakini sebagai waktu pembuatan Candi Tribhuwana Tunggadewi. Yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit 1350-1389 masehi. ( Kartono ,)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *