Derita Ibu Sumirah Lansia 73 tahun Asal Jombang Kabupaten Jember, Hidup Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Reot Tak Punya MCK

banner 120x600
banner 336x280

Jember – News PATROLI.COM –

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat, masih ada warga lansia yang harus menghadapi keseharian dengan berbagai keterbatasan.

Salah satunya adalah Ibu Sumirah, seorang wanita berusia 73 tahun, yang merupakan warga RT 002/RW 038, Jalan Kakak Tua, Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember.

Pada usia senjanya, Sumirah menjalani hidup sebatang kara di sebuah bangunan sederhana yang kondisinya jauh dari layak untuk disebut sebagai tempat tinggal.

Hunian yang ia tempati lebih menyerupai gubuk reot. Dinding rumah sebagian besar terbuat dari anyaman bambu yang sudah lapuk, berlubang di beberapa bagian, dan tampak tidak lagi mampu memberikan perlindungan optimal dari panas maupun hujan.

Kondisi ini menjadikan kehidupan Sumirah semakin memprihatinkan. Untuk sekadar beristirahat dan berlindung, ia hanya mengandalkan bangunan seadanya yang terus mengalami kerusakan.

Tidak hanya bagian rumah, kondisi dapur yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari juga jauh dari layak. Dengan segala keterbatasannya, Sumirah tetap berusaha menjalani hidup sendiri di usianya yang sudah tidak muda lagi.

Namun, kondisi yang paling memprihatinkan terletak pada fasilitas sanitasi. Rumah yang ditempati Sumirah tidak memiliki kamar mandi maupun toilet (MCK).

Untuk memenuhi kebutuhan buang air besar, Sumirah terpaksa menggunakan ember. Setelah itu, kotoran tersebut dibuang ke sungai.

Kondisi ini bukan hanya persoalan tempat tinggal, tetapi juga menyangkut kelayakan hidup dan kesehatan seorang lansia yang seharusnya mendapatkan perhatian dan perlindungan.

Baca juga :  Penemuan Mayat Pria di Perairan Pesisir Melemman Diduga Alami Laka Laut

Kehidupan Sumirah menjadi gambaran bahwa di tengah berbagai pembangunan dan kemajuan masyarakat, masih terdapat warga lansia yang membutuhkan perhatian dari lingkungan sekitar.

Ia tidak memiliki banyak pilihan. Dalam keterbatasannya, Sumirah hanya bisa bertahan dengan kondisi rumah seadanya dan fasilitas hidup yang sangat minim.

Melihat kondisi tersebut, kepedulian dari masyarakat, pemerintah, komunitas sosial, maupun para donatur sangat diharapkan. Bantuan tidak harus selalu dalam bentuk besar. Perbaikan rumah, pembangunan MCK, kamar mandi, kebutuhan sehari-hari, maupun bantuan lainnya tentu akan sangat berarti bagi Sumirah.

Terlebih lagi, membangun hunian yang lebih aman dan menyediakan fasilitas sanitasi yang layak bukan sekadar memberikan kenyamanan, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan dan martabat seorang lansia.

Kisah Sumirah diharapkan menjadi perhatian bersama. Di usia 73 tahun, ia semestinya dapat menjalani hari tua dengan tempat tinggal yang aman dan fasilitas dasar yang layak, bukan bertahan di tengah kondisi rumah yang nyaris tidak mampu memberikan perlindungan.

Bagi masyarakat maupun donatur yang tergerak untuk membantu, perhatian dan uluran tangan sekecil apa pun akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan Sumirah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *