Madiun, Newspatroli.com
Dalam rangka meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan terus dilakukan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPTPH) Jawa Timur. Hingga saat ini tetap berkomitmen untuk melakukan Sosialisasi pada petani tentang dampak penggunaan pestisida kimia dalam praktik budidaya tanaman. .
Mengawali Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Unit Pelaksana Teknis Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (UPT PTPH) yang berada di bawah naungan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur melakukan kegiatan klinik Penerapan Pengendalian Hama Terpadu. Kegiatan tersebut dilakukan di Desa Purworejo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun.
” Penggunaan bahan kimia pada proses produksi pangan, secara terus menerus dapat mencemarkan lingkungan, merusak tanah, habitatnya, serta produk yang dihasilkan menjadi tidak terlalu aman untuk dikonsumsi. ” ujar Mulyadi petugas POPT kepada News Patroli Media.

Dengan adanya Klinik PPHT tersebut melakukan sosialisasi pangan sehat Tanpa ada bahan kimia kepada masyarakat khususnya petani. Meski pemakaian bahan kimia, memakan waktu yang lebih cepat dalam prosesnya, hal tersebut apabila tidak menciptakan alternatif lain, akan menimbulkan dampak kelangkaan dan ketergantungan pada produk kimia yang dapat menghasilkan limbah tak terurai dan hara tanah akan menurun,.
” Kita menerapkan tiga prinsip dalam pertanian yakni pendekatan ekonomi, ekologi, dan sosial. Kita juga berharap agar ekosistem tetep berjalan dengan tidak membunuh predator secara keseluruhan ” jelas Mulyadi
Disebutkan Mulyadi, penggunaan pestisida tidak haram pada dasarnya, Namun dengan takaran yang tepat. Seperti pada konsep yang digagas pada prinsip PHT yakni gerakan 6T, Tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat dosis atau konsentrasi, dan tepat cara penggunaan.
Langkah tersebut guna mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan, tindakan pengenalan dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi prioritas utama. Melihat efisiensi waktu pada produk bahan kimia, Mulyadi mengaku tak heran jika petani dan pelaku bisnis memilih bahan baku tersebut sebagai vitamin penunjang produk pangannya.
Di Klinik PHT, kami sebagai petugas POPT yang berusaha mendampingi petani terutama pada daerah sentra pangan guna membantu meningkatkan produksi pangan namun tetap mengarahkan dengan memaksimalkan bahan baku alam dalam prosesnya,” ucap Mulyadi
Lanjut Mulyadi kepada Anak Media News Patroli jika di daerah Jawa Timur sendiri ada dua tempat yang mendapat pendampingan yaitu di di Desa Purworejo, Kab. Madiun serta Desa Sampung, Kabupaten Ponorogo.
“Kami akan terus memaksimalkan Klinik PHT dan PPAH pada setiap daerah, kedua lembaga tersebut merupakan unit yang penting dan merupakan ujung tombak pelestarian lingkungan,” pungkas Mulyadi
Sementara itu, salah satu petani yang rutin mengikuti pendampingan adalah Bibit. Ia menjelaskan jika sebelumnya ia menggunakan teknik kimia. Namun demikian meskipun memiliki kuantitas yang baik, namun ia menuturkan jika masyarakat sekarang lebih fokus kepada kualitas.
” Program ini menguntungkan bagi petani, kita berharap semua petani bisa menerapkan PHT. Kita ingin produk tidak hanya kuantitas tetapi kualitas ” pungkas Bibit.
Para petani ditempat tersebut mendapatkan pendampingan rutin seminggu sekali. Mereka diajari berbagai jenis pengendalian hama serta cara penanganannya. Kegiatan yang sudah dimulai sejak maret tersebut, juga dilatih membuat laporan sebagai evaluasi dan menyampaikan laporan setiap minggunya. (Bud/Mar)










