RSUD RT Notopuro Sidoarjo Ajak Remaja Berani Bersuara, Kesehatan Jiwa Dimulai dari Didengar

banner 120x600
banner 336x280

Sidoarjo – News PATROLI.COM –

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RT Notopuro Sidoarjo mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap kesehatan jiwa dengan berani mengungkapkan perasaan dan menceritakan pengalaman yang mereka alami. Ajakan tersebut disampaikan melalui talk show bertajuk “Didengar Itu Penting: Cerita Remaja, Suara Nyata, Perubahan Nyata” dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Nusantara, Gedung Putih RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Sabtu (10/10/2026), tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus dialog bagi remaja untuk memahami pentingnya kesehatan mental. Melalui forum ini, para peserta didorong agar tidak memendam persoalan seorang diri, melainkan berani berbicara kepada orang yang tepat untuk mendapatkan dukungan dan pendampingan.

Talk show tersebut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur RSUD RT Notopuro Sidoarjo, dr. Prima Dessy Kusuma Rachmawati, serta tiga narasumber dari bidang kedokteran jiwa dan psikiatri, yakni dr. Diana Caesaria, Sp.KJ, dr. Liana Nurhayati, Sp.KJ, dan dr. Yohanna Avilla Destalia, Sp.KJ.

Kegiatan ini juga diikuti guru pendamping serta peserta didik jenjang SMP dan SMA dari Sidoarjo dan sekitarnya. Keterlibatan kalangan pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman bahwa kesehatan jiwa remaja membutuhkan perhatian bersama, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Melalui diskusi dan berbagi pengalaman, peserta diajak mengenali kondisi emosional, memahami perubahan yang terjadi selama masa remaja, serta membangun komunikasi yang sehat dengan orang-orang di sekitarnya.

Dalam sambutannya, Plt. Direktur RSUD RT Notopuro Sidoarjo, dr. Prima Dessy Kusuma Rachmawati, menegaskan bahwa keberanian remaja untuk menyampaikan isi hati merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan jiwa. Menurutnya, setiap remaja memiliki cerita, pengalaman, dan persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serta pemahaman.

Ia mengajak para peserta untuk tidak takut menyuarakan perasaan maupun pengalaman yang dialami, terutama ketika menghadapi situasi yang membuat mereka tertekan, takut, tidak nyaman, atau membutuhkan bantuan.

“Setiap cerita dan pendapat memiliki nilai penting. Karena itu, remaja membutuhkan ruang yang aman dan nyaman untuk menyampaikan perasaan, berbagi pengalaman, serta memperoleh dukungan sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.

Menurut dr. Prima, lingkungan yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi sangat dibutuhkan agar remaja merasa diterima dan tidak sendirian ketika menghadapi persoalan. Dukungan tersebut dapat menjadi langkah awal bagi mereka untuk memahami masalah yang dihadapi dan mencari jalan keluar secara tepat.

Ia menekankan bahwa kesehatan jiwa remaja bukan semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga, guru, dan lingkungan sosial juga mempunyai peran besar dalam membangun suasana yang mendukung tumbuh kembang remaja, termasuk dalam aspek emosional dan psikologis.

“Lingkungan yang suportif diperlukan agar remaja merasa didengar, dipahami, dan tidak harus menghadapi persoalannya seorang diri,” tegasnya.

Dr. Prima juga menyoroti pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, khususnya ketika anak mulai memasuki usia remaja. Pada fase tersebut, berbagai perubahan dapat memengaruhi cara mereka memahami diri sendiri, berinteraksi dengan orang lain, serta merespons situasi yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Pengalaman mendampingi anak yang memasuki usia remaja, menurutnya, turut memperlihatkan bahwa komunikasi yang terbuka menjadi salah satu hal penting dalam membangun hubungan yang saling memahami.

“Berbagai perubahan yang dialami pada masa remaja membutuhkan pendampingan dan pemahaman agar mereka memiliki kesempatan untuk menyampaikan perasaan serta memperoleh arahan yang tepat,” ungkapnya.

Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya berfokus pada prestasi akademik maupun perilaku anak, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi emosional mereka. Kesediaan untuk mendengarkan cerita anak, memahami sudut pandangnya, dan memberikan respons yang tepat merupakan bagian dari dukungan yang diperlukan selama proses pertumbuhan.

Baca juga :  Satlantas Polresta Sidoarjo Raih Penilaian Terbaik Manajemen Lalin Kawasan Terminal di Operasi Ketupat Semeru

Hal serupa juga berlaku di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya berperan dalam kegiatan belajar-mengajar, tetapi dapat menjadi salah satu sosok dewasa tepercaya yang membantu peserta didik ketika menghadapi persoalan.

Dr. Prima mengingatkan agar remaja mampu memilih orang yang tepat sebagai tempat bercerita. Mereka dapat menyampaikan pengalaman kepada orang tua, guru yang dipercaya, konselor, maupun tenaga profesional di bidang kesehatan jiwa.

“Dengan dukungan yang sesuai, persoalan yang dihadapi diharapkan dapat dibicarakan secara terbuka dan memperoleh penanganan yang diperlukan,” pungkasnya.

Pentingnya keberanian untuk bersuara juga tergambar melalui pengalaman Avillian Malik, siswi SMA Negeri 1 Sidoarjo, yang berbagi cerita dalam kegiatan tersebut.

Avillian menceritakan pengalaman tidak menyenangkan yang dialaminya ketika masih duduk di bangku SMP. Saat hendak pulang ke rumah, ia bertemu dengan seorang pria dewasa yang melontarkan komentar kepadanya. Situasi tersebut membuat Avillian merasa takut dan tidak nyaman hingga akhirnya memilih berlari kembali ke sekolah.

Setelah kembali ke sekolah, ia kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada gurunya.

Pengalaman itu menjadi gambaran bahwa remaja dapat menghadapi situasi yang membuat mereka merasa terancam, takut, atau kehilangan rasa aman. Dalam kondisi seperti itu, keberadaan orang dewasa yang dapat dipercaya sangat berarti agar mereka memiliki tempat untuk menyampaikan pengalaman tanpa merasa disalahkan.

Keputusan Avillian untuk bercerita kepada gurunya juga menunjukkan bahwa keberanian bersuara tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Menyampaikan kejadian yang dialami kepada seseorang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh dukungan dan bantuan yang diperlukan.

Kisah tersebut sekaligus menegaskan pentingnya peran guru dan lingkungan sekolah dalam menciptakan ruang aman bagi peserta didik. Ketika seorang siswa berani mengungkapkan pengalaman yang membuatnya takut atau tidak nyaman, respons yang diberikan perlu mengedepankan kepedulian, perlindungan, dan pemahaman terhadap kebutuhan siswa.

Lingkungan pendidikan yang terbuka terhadap cerita dan persoalan peserta didik diharapkan dapat membantu mereka merasa lebih aman untuk mencari pertolongan ketika menghadapi situasi sulit.

Melalui talk show Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2026 ini, RSUD RT Notopuro Sidoarjo menegaskan pentingnya membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan jiwa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi masalah. Lebih dari itu, diperlukan lingkungan yang memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk menyampaikan perasaan, memperoleh pemahaman, dan mendapatkan dukungan yang sesuai.

Bagi remaja, memiliki tempat bercerita yang aman dapat membantu mereka mengungkapkan pengalaman yang selama ini mungkin sulit disampaikan. Dukungan dari keluarga, guru, teman tepercaya, konselor, maupun tenaga profesional juga penting ketika persoalan yang dihadapi membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Pesan “Didengar Itu Penting: Cerita Remaja, Suara Nyata, Perubahan Nyata” menjadi pengingat bahwa setiap cerita layak mendapatkan perhatian. Mendengarkan bukan sekadar membiarkan seseorang berbicara, melainkan juga berusaha memahami perasaannya tanpa terburu-buru menghakimi atau meremehkan persoalan yang disampaikan.

Melalui kegiatan edukasi dan dialog tersebut, RSUD RT Notopuro Sidoarjo berharap kesadaran mengenai kesehatan jiwa semakin tumbuh di kalangan generasi muda. Remaja diharapkan lebih mengenali kondisi emosionalnya, berani mencari pertolongan ketika membutuhkan, serta memahami bahwa mereka tidak harus menghadapi setiap persoalan seorang diri.

Pada saat yang sama, keluarga, sekolah, dan masyarakat diharapkan terus membangun lingkungan yang suportif agar remaja merasa aman untuk berbicara dan memperoleh pendampingan yang tepat.

Sebab, ketika remaja diberikan ruang untuk bersuara dan didengarkan dengan penuh kepedulian, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk mengungkapkan kebutuhan, mencari bantuan, dan melangkah menuju kondisi kesehatan jiwa yang lebih baik. (Gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *