Banyuwangi, News PATROLI.COM –
Sampah yang menumpuk di TPS (Tempat pembuangan sampah, red) dan terlambat diambil oleh DLH akan menimbulkan ekses yang komprehensif bagi sosial masyarakat.
Hal ini terjadi di TPS dekat Penyebrangan ASDP di Ketapang Banyuwangi.
Hasil investigasi yang berhasil News Patroli temui masyarakat yang tinggal di sekitar TPS Ketapang, rata-rata mengeluh karena polusi udara (Bau, red).
Berdasarkan konfirmasi Kusni, 50 warga Bulusan Ketapang (Tukang Becak biasa mangkal di seberang jalan TPS, red), pada hari Minggu, 08/03/2026 08:10 menuturkan : “Tadi malam yang bekerja mengambil sampah itu cuman 3 orang, seyogyanya/ harusnya 7 atau 8 orang yang bekerja,” Kata tukang becak dengan penuh tanda tanya.
Dari input pemerhati sampah di sekitar Pelabuhan ASDP (Angkutan Sungai Danau Pelabuhan, red) Ketapang pada News Patroli, ketika DLH (Dinas Lingkungan Hidup,red) tidak mengambil sampah, dampaknya sangat serius bagi lingkungan dan masyarakat.
Penumpukan sampah ini memicu berbagai masalah kesehatan dan ekosistem di daerah seperti wilayah Pelabuhan Di daerah Ketapang Banyuwangi.
Dampak Lingkungan Sampah yang menumpuk mencemari tanah dengan zat kimia berbahaya, merusak air melalui penyumbatan sungai dan selokan, serta menyebabkan banjir saat musim hujan.
Pembakaran sampah secara liar juga menghasilkan polusi udara, termasuk gas beracun seperti karbon monoksida yang memperburuk pemanasan global.
Dampak KesehatanTimbunan sampah menjadi sarang nyamuk, lalat, dan bakteri penyebab penyakit seperti diare, kolera, serta infeksi kulit. Bau tidak sedap dan mikroplastik dari sampah yang masuk rantai makanan juga menurunkan kualitas hidup warga sekitar.
Dampak Sosial Kasus nyata seperti di menunjukkan warga protes karena sampah menumpuk akibat DLH tidak seimbang dalam pengangkutan. Hal ini menurunkan nilai properti, mengganggu estetika lingkungan, dan memicu konflik sosial. Serta merusak citra yang kurang baik di wilayah teritorial Pelabuhan Ketapang. **IR Rogojampi















