Medan – NewsPATROLI.COM –
PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat kinerja positif dengan volume peti kemas hingga Maret 2026 mencapai 168.478 TEUs atau tumbuh sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menjadi indikator kuat pulihnya arus distribusi barang, terutama untuk kebutuhan domestik dan ekspor dari wilayah barat Indonesia.
Kontribusi utama pertumbuhan ditopang Terminal 1 Belawan. Arus peti kemas domestik tercatat sebesar 152.452 TEUs atau meningkat 5 persen secara tahunan.
Stabilnya distribusi barang konsumsi serta bahan baku industri, yang didukung daya beli masyarakat yang tetap terjaga, menjadi penggerak utama kenaikan ini.
Di sisi lain, Terminal 2 Kuala Tanjung mencatat lonjakan signifikan pada segmen internasional. Volume peti kemas internasional mencapai 5.579 TEUs atau melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini dipicu oleh bertambahnya layanan pelayaran serta meningkatnya aktivitas ekspor dari kawasan industri di Sumatera.
Direktur Utama PMT, Rudi Susanto, menilai capaian tersebut sebagai sinyal kuat membaiknya pergerakan ekonomi daerah di tengah tekanan global.
“Kami melihat adanya perbaikan arus barang, khususnya untuk komoditas ekspor dan distribusi antardaerah. Hal ini menunjukkan aktivitas industri mulai kembali bergerak, meskipun pelaku usaha masih bersikap hati-hati dalam menghadapi ketidakpastian global,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Dari sisi operasional, kinerja layanan juga menunjukkan peningkatan signifikan. Rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 85,95 persen, mencerminkan efisiensi tinggi dalam proses bongkar muat. Sementara itu, di Kuala Tanjung, rasio ET/BT tercatat sebesar 75,57 persen untuk layanan internasional dan 66,74 persen untuk domestik.
Capaian ini tidak terlepas dari langkah pembenahan menyeluruh yang dilakukan perusahaan, mulai dari penataan area penumpukan, optimalisasi peralatan bongkar muat, hingga penguatan koordinasi operasional. Strategi ini menjadi kunci dalam mempercepat layanan sekaligus menekan biaya logistik.
Di tengah dorongan kebijakan pemerintah dalam menekan biaya logistik nasional serta memperkuat ekspor berbasis hilirisasi, kinerja ini semakin memperkokoh posisi pelabuhan sebagai simpul vital perdagangan.
Namun, fluktuasi permintaan global dan ketidakpastian ekonomi di negara mitra dagang tetap menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Aspek keselamatan kerja pun tidak luput dari perhatian. PMT terus memperkuat implementasi program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui standardisasi peralatan, inspeksi berkala, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja dengan target nihil kecelakaan kerja.
Rudi menegaskan, pelabuhan kini menjadi tulang punggung kelancaran logistik dan penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Ke depan, PMT berkomitmen meningkatkan keandalan layanan guna menekan biaya logistik serta memperkuat daya saing produk nasional di pasar global.
(Dodi Sembiring)










