Madiun – News PATROLI.COM –
Para petani di wilayah Desa Klorogan, Kecamatan Geger Madiun, dilanda kegelisahan mendalam. Saluran irigasi utama yang menjadi tumpuan pengairan ratusan hektar persawahan, kini terancam rusak dan tercemar limbah lumpur serta sisa cucian pasir di hulu daerah Dolopo, Masalah ini kian terasa dampaknya di tengah musim kemarau yang mulai melanda, di mana ketersediaan air bersih menjadi sangat berharga dan terbatas, Senin (14/9/2026).
Endapan lumpur tutupi pintu pengatur air
Berdasarkan pantauan di lapangan, air di saluran irigasi yang seharusnya jernih dan lancar mengalir, justru berubah menjadi keruh pekat berwarna kecokelatan dan penuh endapan lumpur tebal. Sumber pencemaran diduga kuat berasal dari aktivitas pengolahan atau pencucian pasir yang beroperasi di wilayah hulu sungai. Limbah padat hasil cucian pasir tersebut dialirkan begitu saja ke badan air, kemudian terbawa arus hingga menumpuk di saluran irigasi pertanian.
Akibatnya, saluran air kini mengalami pendangkalan dan penyumbatan. Aliran air menjadi lambat, bahkan sempat meluap ke pinggiran karena tidak mampu menampung endapan lumpur. Para petani mengeluhkan kondisi ini sangat merugikan, terlebih saat ini memasuki musim kemarau. Air yang keruh dan bercampur lumpur berisiko menutup pori-pori tanah sawah, mengganggu pertumbuhan tanaman padi, serta menyulitkan distribusi air ke lahan-lahan pertanian yang membutuhkan asupan air cukup besar.
Ketua Gapoktan Klorogan Abib mengatakan”Kami sangat resah. Musim kemarau air sudah sedikit, eh yang ada malah keruh dan penuh lumpur dari cucian pasir. Saluran cepat dangkal, air susah masuk ke sawah. Kalau begini terus tanaman kami yang rugi besar,” ujar salah satu petani di Desa Klorogan yang turun membersihkan saluran, sembari berharap perhatian pihak berwenang.
Para petani meminta agar pemerintah desa maupun dinas terkait segera turun tangan menelusuri sumber pencemaran. Mereka menuntut aktivitas yang membuang limbah sembarangan tersebut dihentikan atau diatur agar tidak lagi merusak lingkungan dan mengganggu sektor pertanian. Selain itu, bantuan pembersihan saluran irigasi dari tumpukan endapan limbah tersebut dinilai sangat mendesak dilakukan agar tidak mengganggu jadwal tanam dan produktivitas panen warga.
Kiki UPTD Pengangiaran dan Jasamarga Dolopa mengatakan untuk normalisasi irigasi SDU 2 sedah Utara, kurang lebih setahun yang lalu , kondisi saat ini ada pendakalan yang seknifikan ,dari kedalaman 3 meter sekarang tinggal 1 meter .
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi maupun langkah konkret yang diambil pihak pengelola aktivitas pasir terkait dampak limbah yang ditimbulkannya bagi warga desa dan pertanian.














