Disdik Sidoarjo Investigasi Dugaan Keracunan 26 Siswa, Kantin Sekolah Ditutup

banner 120x600
banner 336x280

Sidoarjo – News PATROLI.COM –

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat menindaklanjuti insiden dugaan keracunan makanan yang dialami puluhan siswa SDI Ar- Rahmah yang berlokasi di Dusun Lengki, Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo.
Sebanyak 26 siswa dilaporkan mengalami sejumlah gejala medis setelah mengonsumsi makanan di lingkungan sekolah pada Sabtu.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Disdik Sidoarjo berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo untuk melakukan investigasi dan penanganan secara menyeluruh. Tim diterjunkan ke lokasi guna melakukan verifikasi lapangan, memastikan penanganan medis terhadap para siswa, serta mengambil sampel makanan untuk selanjutnya menjalani pemeriksaan laboratorium.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo, Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd., menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah pusat.

Penegasan itu sekaligus meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, sekolah yang mengalami insiden tersebut hingga kini belum menerima maupun melaksanakan program MBG.

“Untuk data yang kami peroleh hari Sabtu, total ada 26 siswa yang mengalami gejala keracunan. Mengenai penyebab pastinya, kami masih menunggu hasil laboratorium dari Dinas Kesehatan. Jadi mohon bersabar. Yang jelas, ini bukan dari program MBG karena sekolah ini memang belum menerima MBG,” tegas Netti.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes., menyampaikan bahwa dugaan awal mengarah pada makanan yang dikonsumsi warga sekolah saat aktivitas pembelajaran berlangsung.

“Kemungkinan dari makanan yang dikonsumsi oleh murid-murid dan guru,” ungkap Lakhsmie saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.

Meski demikian, pihak Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab dan kandungan yang diduga memicu gangguan kesehatan tersebut.

Pihak sekolah juga mengambil langkah cepat untuk memastikan seluruh siswa yang terdampak mendapatkan pendampingan maksimal. Kepala SDI Ar-Rahmah, Niswatun Halim, S.Pd., mengatakan, dari total 345 siswa yang terbagi dalam 15 rombongan belajar mulai kelas I hingga kelas VI, sebanyak 40 guru dikerahkan untuk mendampingi siswa dan orang tua selama proses penanganan.

Para guru dibagi dalam empat sistem shift dan disebar ke sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Klinik Pratama dr. Andre, Rumah Sakit Mitra Keluarga Sidoarjo, serta RS Bhayangkara.

“Kami ada 40 guru. Pada Sabtu dan Ahad, guru kami sebar ke rumah sakit untuk mendampingi ananda. Kami buat empat shift, Sabtu pagi, Sabtu siang, Ahad pagi, dan Ahad siang. Bahkan pada Jumat malam, guru-guru mendampingi anak-anak kami yang rawat inap sampai subuh, kemudian pukul 08.00 WIB dilanjutkan shift berikutnya,” jelas Niswatun, Kamis (13/8/2026).

Ia menyampaikan apresiasi atas respons cepat fasilitas kesehatan dalam memberikan penanganan kepada para siswa. Pihak sekolah berharap seluruh peserta didik segera pulih dan dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa.

“Harapan kami, anak-anak kami sehat semuanya. Kemarin mendapatkan penanganan yang luar biasa dari rumah sakit. Harapan kami anak-anak sehat, bisa beraktivitas kembali, belajar dengan ceria dan baik, serta kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kami berkomitmen untuk menjadi sekolah yang lebih baik dan lebih sehat lagi,” ujarnya.

Baca juga :  YMIS Carnaval Fiesta RA-MI Islamiyah Sangkur

Sebagai bagian dari evaluasi dan langkah pencegahan, pihak sekolah mengambil keputusan menutup operasional kantin sekolah hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah kehati-hatian sembari menunggu hasil pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh terhadap sumber makanan yang dikonsumsi siswa.

Mengingat sekolah menerapkan sistem pembelajaran sehari penuh atau full day school mulai pukul 07.00 hingga 15.30 WIB, pihak sekolah kemudian menyiapkan program alternatif untuk memenuhi kebutuhan makanan ringan peserta didik.

Program tersebut diberi nama MBB atau Makanan Buatan Bunda. Melalui program ini, orang tua diminta menyiapkan makanan ringan, buah, maupun minuman dari rumah untuk dibawa anak ke sekolah.

“Sabtu itu kami langsung membuat program MBB, bukan MBG, tetapi MBB (Makanan Buatan Bunda). Karena kantin sudah kami tutup sampai waktu yang belum ditentukan. Anak-anak full day dari jam 07.00 sampai sekitar jam 16.00 tentu membutuhkan kudapan. Melalui program MBB, wali murid menyediakan snack, buah atau minuman yang dibawakan langsung dari rumah,” terang Niswatun.

Perkembangan terakhir menunjukkan kondisi para siswa yang sempat mendapatkan perawatan medis berangsur membaik. Sebagian besar siswa telah diperbolehkan kembali ke rumah setelah menjalani penanganan di fasilitas kesehatan.

Hingga informasi terakhir diterima, hanya satu siswa yang masih menjalani perawatan di rumah sakit dan diharapkan segera diperbolehkan pulang.

Disdik Sidoarjo juga memberikan apresiasi kepada pihak sekolah dan yayasan yang dinilai responsif dalam menangani kejadian tersebut. Biaya pengobatan yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan disebut ditanggung penuh oleh pihak yayasan.

“Alhamdulillah sampai hari Senin tinggal satu siswa yang masih di rumah sakit dan insyaallah hari ini sudah bisa pulang. Pihak yayasan dan sekolah sangat cepat tanggap. Seluruh biaya penanganan yang tidak ter-cover BPJS ditanggung penuh oleh yayasan. Guru-guru juga disebar untuk mendampingi orang tua di rumah sakit,” kata Netti.

Disdik Sidoarjo menegaskan bahwa kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi seluruh satuan pendidikan. Sekolah diimbau meningkatkan pengawasan terhadap kebersihan lingkungan, pengolahan dan penyajian makanan, khususnya yang dijual di kantin sekolah.

Selain itu, satuan pendidikan diminta aktif berkoordinasi dengan Puskesmas setempat untuk mendapatkan edukasi serta memastikan penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan di lingkungan sekolah.

Hingga kini, penyebab pasti insiden tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo.

Pemerintah daerah memastikan proses investigasi tetap berjalan agar sumber penyebab kejadian dapat diketahui secara objektif. Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan menjadi dasar untuk menentukan langkah evaluasi dan pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi serta menjamin keamanan dan kesehatan peserta didik di lingkungan sekolah. (Gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *