banner 700x256

Ruwat Agung Sumber Petirtaan Jolotundo, Tradisi Leluhur yang Menjaga Harmoni Alam dan Warisan Sejarah

banner 120x600
banner 336x280

Mojokerto – News PATROLI.COM –

Petirtaan Jolotundo merupakan salah satu peninggalan bersejarah terpenting dari masa Kerajaan Kahuripan yang berada di lereng barat Gunung Penanggungan pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut.

Petirtaan ini diperkirakan dibangun pada tahun 977 Saka atau sekitar 899 Masehi sebagai penghormatan kepada Raja Udayana Warmadewa dan permaisurinya, Mahendradatta, yang merupakan orang tua dari Raja Airlangga.

Kompleks petirtaan dibangun menggunakan batu andesit dengan arsitektur yang memadukan unsur budaya Jawa Kuno dan Bali. Keunikan lainnya, air yang keluar dari pancuran Jolotundo dikenal sangat jernih dan tidak pernah surut meskipun memasuki musim kemarau panjang.

Selain menjadi situs sejarah dan destinasi wisata budaya, Petirtaan Jolotundo hingga kini masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat. Banyak pengunjung datang untuk menikmati keindahan alam, mempelajari sejarah, maupun melakukan ritual spiritual sesuai tradisi yang berkembang di masyarakat.

Keberadaan Ruwat Agung Sumber Petirtaan Jolotundo menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga melalui bangunan bersejarah, tetapi juga melalui nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi yang terus hidup ini menjadi pengingat bahwa menjaga sumber air dan kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan generasi yang akan datang.

Tradisi adat Ruwat Agung Sumber Petirtaan Jolotundo kembali digelar dengan khidmat di kawasan lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, pada Kamis (18/6/2026). Ritual yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya leluhur, tetapi juga wujud rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber air yang selama ratusan tahun menjadi penopang kehidupan warga.

Pemangku adat, Mukadi, menjelaskan bahwa pelaksanaan Ruwat Sumber selalu dilaksanakan setiap tahun pada bulan Suro, dengan penentuan hari sebelum tanggal 10 kalender Jawa yang jatuh pada pasaran Legi.

“Ini merupakan tradisi warisan nenek moyang yang terus kami lestarikan. Waktunya sudah ditentukan berdasarkan adat yang selama ini kami pegang,” ujar Mukadi.

Menurutnya, ruwatan tersebut merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah sumber air Jolotundo yang tak pernah berhenti mengalir dan telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar.

Air yang mengalir di Petirtaan Jolotundo berasal dari mata air alami di lereng Gunung Penanggungan. Sumber air tersebut dimanfaatkan warga untuk kebutuhan air minum, keperluan rumah tangga, hingga mengairi lahan pertanian. Karena itu, air dipandang sebagai simbol kemakmuran sekaligus anugerah yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Air adalah sumber kehidupan. Kami bersyukur karena hingga sekarang mata air Jolotundo tetap mengalir dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Rangkaian Ruwat Agung tidak hanya diisi dengan prosesi adat dan doa bersama, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata pelestarian lingkungan. Masyarakat menggelar pelepasan burung ke alam liar serta penanaman pohon di sekitar kawasan sumber mata air.

Mukadi menegaskan, kedua kegiatan tersebut merupakan implementasi dari filosofi ruwatan yang tidak berhenti pada ritual simbolis semata.

“Jadi filosofi kami, ritual tidak cukup hanya dilakukan secara simbolis. Harus ada tindakan nyata. Pelepasan burung adalah bukti cinta kami terhadap pelestarian alam,” jelasnya.

Selain itu, penanaman pohon dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan sumber-sumber air di kawasan Gunung Penanggungan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim dan pemanasan global.

Baca juga :  Ruwat Agung Sumber Petirtaan Jolotundu Peninggalan Raja Airlangga

“Pohon dan air saling berkaitan. Kalau hutannya tetap lestari dan pepohonannya terjaga, maka sumber-sumber air akan terus mengalir untuk kehidupan,” tambah Mukadi.

Ketika ditanya sejak kapan tradisi tersebut berlangsung, Mukadi mengaku tidak ada seorang pun yang mampu memastikan awal mula pelaksanaannya. Sebab, ritual itu telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar.

“Sudah tidak bisa dihitung lagi karena ritual ini memang turun-temurun dari nenek moyang,” katanya.

Ditempat yang sama, penggiat budaya sekaligus pelestari cagar budaya, Joko 61 tahun asal Pasuruan, menilai Jolotundo menyimpan nilai-nilai luhur yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda. Menurut dia, situs tersebut bukan hanya warisan fisik berupa bangunan bersejarah, tetapi juga ruang pembelajaran tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

“Saya sering menemui orang yang datang membawa harapan dan doa. Ada yang meminta air Jolotundo untuk keluarga yang sedang sakit. Namun yang harus dipahami, segala kesembuhan dan pertolongan tetap berasal dari Allah. Alam dan warisan leluhur menjadi sarana untuk mengingat kebesaran-Nya,” kata Joko.

Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga bangunan atau menggelar upacara adat. Yang lebih penting adalah merawat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Warisan budaya mengajarkan penghormatan terhadap alam, rasa syukur, dan kebersamaan. Nilai-nilai seperti inilah yang harus terus dijaga,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Yoyok, 67 tahun pengunjung asal Surabaya yang mengaku rutin datang ke Jolotundo bersama keluarga dan komunitas spiritual.

“Saya datang untuk belajar dan memahami kearifan yang diwariskan para leluhur. Soal kesembuhan atau manfaat lainnya, semuanya kembali kepada kehendak Tuhan. Yang penting kita belajar menghargai alam dan budaya yang telah diwariskan kepada kita,” katanya.

Menurut Yoyok budaya merupakan akar yang membentuk identitas masyarakat. Karena itu, keberadaannya tidak boleh tergerus oleh perkembangan zaman.

“Saya berharap semakin banyak anak muda yang mau mengenal sejarah dan budaya bangsanya sendiri. Jangan sampai warisan seperti ini hilang karena kita lupa menjaganya,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Ruwat Agung Sumber Petirtaan Jolotundo hadir sebagai pengingat bahwa kearifan lokal masih memiliki relevansi bagi kehidupan masa kini. Tradisi ini menunjukkan bahwa menjaga alam bukan hanya urusan kebijakan dan teknologi, tetapi juga soal kesadaran kolektif yang tumbuh dari nilai-nilai budaya.

Di Jolotundo, mata air yang terus mengalir sejak ratusan tahun silam tidak hanya menjadi sumber kehidupan. Ia juga menjadi simbol hubungan yang tak terputus antara manusia, alam, sejarah, dan spiritualitas. Hubungan yang hingga hari ini tetap dirawat melalui doa, tindakan, dan penghormatan kepada warisan leluhur.

Di era digital saat ini, keberadaan media dan mensos turut berperan dalam memperkenalkan Ruwat Sumber Jolotundo kepada masyarakat luas, terutama kalangan generasi muda. Berbagai dokumentasi prosesi adat yang diunggah ke media sosial membuat tradisi tersebut semakin dikenal dan mendapat perhatian publik. (Gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *