Jama’ah Khotmil Qur’an dan Kenduri Tumpeng Istiqomah Kirim Doa di Makam Mbah Sentono Dusun Banjarsari

Ustadz Mukid saat menyampaikan Ceramahnya dihadapan Hadi Purwanto dan Kyai Hasan Mathori
banner 120x600
banner 336x280

Mojokerto, News PATROLI.COM –

Selalu Istiqomah ratusan warga Banjarsari rutin menghadiri kegiatan Khotmil Qur’an yang sudah berjalan periode ke-27 bulan yang digelar di area makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono, Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu siang (6 / 9 /2026).

Giat Majelis Khotmil Qur’an dan Do’a Bersama serta Kenduri tumpeng Makam Mbah Sentono ini bertepatan dengan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diinisiasi oleh Hadi Purwanto SH, selaku penanggungjawab kegiatan.

Hadi Purwanto menjelaskan kegiatan keagamaan ini menjadi ajang memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus mendoakan para leluhur dan ahli kubur.

Pria yang akrab disapa Mas Hadi ini juga menjelaskan bahwa acara Rutinan Khotmil Qur’an di komplek Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono tersebut dimulai sejak pagi, para jamaah memadati area makam untuk mengikuti rangkaian pembacaan atau Semaan Al-Qur’an, Sholawatan, Tahlil dan doa bersama ini diakhiri dengan kenduri tumpeng.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk pengingat agar manusia tidak melupakan asal-usul serta senantiasa mendoakan mereka yang telah mendahului.

Pria yang juga sebagai Advokat ini juga mengungkapkan rasa syukurnya karena kegiatan Khotmil Qur’an mampu berjalan secara rutin hingga memasuki pelaksanaan ke-27 bulan. Dan, dirinya menilai keberlangsungan kegiatan selama dua tahun lebih ini merupakan buah dari kebersamaan dan komitmen seluruh jamaah yang terus menjaga semangat ibadah.

“Istiqomah bukan perkara mudah. Banyak kegiatan yang diawali dengan semangat besar, tetapi tidak semuanya mampu bertahan. Alhamdulillah, majelis ini masih terus berjalan berkat pertolongan Allah SWT dan kekompakan jamaah,” ucap Advokat Hadi Purwanto.

Lebih lanjut, Advokat Hadi Purwanto ini menegaskan bahwa setiap bacaan Al-Qur’an dan doa yang dipanjatkan dalam majelis tersebut dihadiahkan untuk kedua orang tua, guru, serta para leluhur yang telah berjasa mengenalkan nilai-nilai agama kepada generasi penerus.

Dirinya berharap bahwa kegiatan Khotmil Qur’an ke-27 ini diharapkan dapat terus berlangsung secara berkesinambungan sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat.

Majelis Khotmil Qur’an ini juga diisi dengan ceramah agama oleh Ustadz Mukhid yang ceramahnya mengajak para jamaah melakukan introspeksi terhadap kualitas ibadah, khususnya kewajiban salat yang merupakan salah satu amalan utama dalam kehidupan seorang muslim.

Ustaz Mukid mengingatkan jamaah Majelis Khotmil Qur’an ini bahwa pada akhirnya manusia akan meninggalkan seluruh urusan dunia. Harta, pekerjaan, usaha, jabatan, maupun keluarga tidak akan dibawa ketika seseorang menghadap Allah SWT.

Menurutnya, ibadah salat yang selama ini kerap dianggap sebagai kewajiban rutin justru harus menjadi perhatian utama, dalam tausiyahnya Ustadz Mukid menyampaikan kisah seorang alim yang menangis ketika berada dalam kondisi sakaratul maut.

Dalam kisah tersebut, seorang ulama yang dikenal sebagai ahli ibadah menangis bukan karena akan meninggalkan harta, keluarga, maupun usaha yang dimilikinya. ‘ Saat itu ulama tersebut menangis karena menyadari bahwa dirinya akan meninggalkan salat yang terakhir, ” ucap Ustadz Mukid.

Untuk itulah Ustaz Mukid mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan meninggalkan atau menunda kewajiban salat.

Baca juga :  Gelar Paripurna, DPRD Kabupaten Mojokerto Dengarkan Jawaban Eksekutif atas Pandangan Fraksi terhadap Lima Raperda

“Jadi kalau urusan dunia, kita mampu bekerja dari pagi sampai sore, bahkan lembur hingga malam. Namun, ketika berkaitan dengan urusan akhirat, terkadang kita beralasan lelah, mengantuk, atau sibuk, padahal, salat merupakan kewajiban yang menjadi salah satu perkara pertama yang diperhitungkan,” tegas Ustadz Mukid dalam menyampaikan pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustad Mukid juga mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah, yakni mengevaluasi diri atas amal dan ibadah yang telah dilakukan selama hidup.

Ustadz Mukid juga menjelaskan bahwa , usia manusia terus berjalan dan tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang. Oleh karena itu, selama masih diberikan kesempatan hidup, waktu sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebaikan.

Dalam Majelis Khotmil Qur’an ini, Ustadz Mukid juga mengingatkan jamaah agar tidak hanya mengejar keberhasilan duniawi. Menurutnya, kehidupan dunia memang penting, tetapi kehidupan akhirat merupakan tujuan akhir yang harus dipersiapkan.

Ustadz Mukid kemudian memberikan gambaran sederhana mengenai waktu yang digunakan seseorang untuk beribadah. Dalam sehari terdapat 24 jam, sedangkan kewajiban salat lima waktu hanya membutuhkan sebagian kecil dari waktu tersebut.

“Jika dihitung, waktu yang kita gunakan untuk salat dalam sehari sebenarnya tidak sebanding dengan 24 jam yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, jangan sampai kita merasa berat menyediakan waktu untuk menghadap Allah,” lanjut Ustadz Mukid.

Untuk itu dalam majelis ini dirinya mengajak jamaah untuk kembali memperbaiki kualitas salat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan juga berupaya menghadirkan kekhusyukan dan kesadaran bahwa salat merupakan bentuk komunikasi seorang hamba dengan Allah SWT.

Ditempat yang sama penceramah kedua Kyai Hasan Matori juga menyampaikan tausiahnya kepada jamaah Khotmil Qur’an dan menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah serta menjadikan kegiatan keagamaan sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Dalam kesempatan tersebut, Ulama Sepuh ini mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an, bersholawat, dan berkumpul dalam majelis ilmu hendaknya tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“ Saya berharap Majelis seperti ini jangan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi tempat untuk memperbaiki hati, memperkuat iman, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama. Ilmu yang kita dengar harus diamalkan dalam kehidupan,” pinta Kyai Hasan Matori.

Dalam kesempatan tersebut Kyai Hasan juga mengajak jamaah untuk menjaga persatuan, menghormati orang tua, mempererat silaturahmi, serta menghindari sikap saling menyalahkan. Menurutnya, kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih baik apabila setiap orang mampu menjaga lisan, memperbanyak kesabaran, dan mengedepankan akhlak.

Kyai Hasan Matori juga mengingatkan kepada para jamaah bahwa kematian merupakan kepastian yang akan dihadapi setiap manusia. ” Karena itu, keberadaan makam hendaknya menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa mempersiapkan bekal amal dan tidak terlena oleh kehidupan dunia, ” ucap Kyai Hasan Mathori.

Sementara itu usai ceramah agama oleh Kyai Hasan Mathori, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama yang langsung setelah itu dilakukan kenduri tumpeng dan ramah tamah menikmati tumpeng makan bersama dengan riang gembira dan keluargaan penuh berkah. ( Rin )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *