Selalu Istiqomah, Jamaah Majelis Khotmil Qur’an dan Kenduri Tumpeng Rutin Kirim Doa di Makam Mbah Sentono

Penceramah Kyai Hasan Mathori bersama Tokoh Masyarakat dan Keluarga besar Hadi Purwanto usai mengikuti Majelis Khotmil Qur'an di Makam Mbah Sentono
banner 120x600
banner 336x280

Mojokerto, News PATROLI.COM –

Selalu Istiqomah ratusan warga Banjarsari rutin menghadiri kegiatan Khotmil Qur’an yang sudah berjalan periode ke-26 bulan yang digelar di area makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono, Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu siang (2 /8 /2026).

Kegiatan yang prakarsai oleh Hadi Purwanto SH MH ini tak terasa sudah berlangsung selama dua tahun lebih, dan giat keagamaan ini menjadi ajang memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus mendoakan para leluhur dan ahli kubur.

Penanggung jawab kegiatan Hadi Purwanto, ST, SH, MH yang dikenal sebagai aktivitas pergerakan ini menjelaskan bahwa acara Rutinan Khotmil Qur’an di komplek Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono tersebut dimulai sejak pagi, para jamaah memadati area makam untuk mengikuti rangkaian pembacaan atau Semaan Al-Qur’an, Sholawatan, Tahlil dan doa bersama ini diakhiri dengan kenduri tumpeng.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk pengingat agar manusia tidak melupakan asal-usul serta senantiasa mendoakan mereka yang telah mendahului.

Pria yang juga sebagai Advokat ini juga mengungkapkan rasa syukurnya karena kegiatan Khotmil Qur’an mampu berjalan secara rutin hingga memasuki pelaksanaan ke-26 bulan. Dan, dirinya menilai keberlangsungan kegiatan selama dua tahun lebih ini merupakan buah dari kebersamaan dan komitmen seluruh jamaah yang terus menjaga semangat ibadah.

“Istiqomah bukan perkara mudah. Banyak kegiatan yang diawali dengan semangat besar, tetapi tidak semuanya mampu bertahan. Alhamdulillah, majelis ini masih terus berjalan berkat pertolongan Allah SWT dan kekompakan jamaah,” ucap Advokat Hadi Purwanto.

Lebih lanjut, Advokat Hadi Purwanto ini menegaskan bahwa setiap bacaan Al-Qur’an dan doa yang dipanjatkan dalam majelis tersebut dihadiahkan untuk kedua orang tua, guru, serta para leluhur yang telah berjasa mengenalkan nilai-nilai agama kepada generasi penerus.

Dirinya berharap bahwa kegiatan Khotmil Qur’an ke-24 ini diharapkan dapat terus berlangsung secara berkesinambungan sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat.

Sementara itu, ditempat yang sama, majelis Khotmil Qur’an di Makam Mbah Sentono Dusun Banjarsari ini diisi Pembacaan Sholawat Nabi, Tahlil dan Istighotsah, lalu ceramah agama oleh Ustadz Mukhid yang ceramahnya mengambil tema tentang hikmah dari ajang Piala Dunia yang baru saja berakhir.

Dalam sepak bola Itu, seluruh pemainnya akan berlatih keras untuk meraih trofi juara, begitu juga dengan kita sebagai umat Islam juga harus bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk meraih ridha Allah SWT dan pada saat meninggalkan dunia ini, meninggal dengan Husnul Khotimah.

Menurut Ustadz Mukid, seorang pemain sepak bola menjaga disiplin, mematuhi pelatih, dan berlatih bertahun-tahun, agar bisa meraih gelar juara dunia, Sehingga Begitu pula seorang muslim harus menjaga sholatnya, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, istiqomah dalam beribadah, beramal atau bersedekah mencari Ridho Alloh SWT.

Baca juga :  DPRD Kabupaten Mojokerto Gelar Rapat Paripurna Hari Jadi ke-733 Kabupaten Mojokerto Tahun 2026

Disebutkan pula dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang mengatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meski sedikit. Karena itu, dirinya pun mengapresiasi konsistensi jamaah yang mampu mempertahankan kegiatan Khotmil Qur’an hingga memasuki pelaksanaan ke-26 bulan ini.

Ustadz Mukhid juga menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah, yang dalam kitab suci Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 2 yang mengajarkan umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Sehingga keberhasilan itu tentunya tidak pernah diraih seorang diri, melainkan melalui kerja sama dan kebersamaan. ” Nilai tersebut juga harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat agar tercipta persatuan dan saling menguatkan, ” ucap Ustadz Mukid.

Sebab, Pemain bola hebat itu dalam lapangan tidak bermain secara individu, melainkan bermain bersama tim , untuk itu dirinya juga mengingatkan bahwa sebagaimana pertandingan sepak bola memiliki peluit akhir, kehidupan manusia pun akan berakhir dengan kematian sebagaimana firman Allah SWT, kullu nafsin dzaiqatul maut (setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati).

Dalam Alqur’an itu disebutkan bahwa setiap muslim hendaknya menyiapkan bekal berupa keikhlasan, amal saleh, dan ibadah untuk menghadap Sang Pencipta, atau Alloh SWT.

Ditempat yang sama, penceramah kedua, Kyai Hasan Mathori menuturkan dan mengajak seluruh jamaah majelis Khotmil Qur’an di Makam Mbah Sentono Dusun Banjarsari Desa Kedunglengkong Dlanggu ini agar para jamaah mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia yang akan memasuki HUT ke-81 Republik Indonesia. Karena Negara kita, Desa kita dalam keadaan damai tidak sedang berperang.

Kyai Hasan juga berpesan agar masyarakat tidak melupakan jasa para guru maupun orang tua yang telah mendidik sejak kecil.

Sehingga Jangan merasa sudah berilmu lalu melupakan guru-guru kita, bahkan guru PAUD sekalipun. Dan sekarang yang jadi ustad diaharap jangan melupakan jasa guru ngaji yang ajarkan alif, ba’, ta’, Ilmu yang berkah lahir dari sikap hormat kepada guru dan bakti kepada orang tua.

Dalam kesempatan tersebut Kyai Hasan Mathori juga mengingatkan pentingnya menghormati para leluhur, termasuk tokoh yang berjasa membuka dan membangun wilayah tempat masyarakat tinggal saat ini ( babad alas).

Sebab sebelumnya tokoh yang babad alas desa sangat berjasa membuka lahan tempat tinggal di masa lalu yang waktu itu masih berupa hutan belantara dan pegunungan. ” Tapi kita sekarang ini kita hanya menempati Desa yang sudah kondisi baik , sebab sebelumnya Desa yang kita tempati ini berupa alas atau hutan, banyak binatang buas, termasuk ular berbisa, bahkan bangsa lelembut, hewan hewan berbahaya lainnya, yang saat ini sudah pergi semua dan lahan nya kini sudah aman ditanami berbagai macam tanaman pertanian dan polowija, ” tegas Kyai Hasan Mathori. ( Rin )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *