Perhutani KPH Lawu Ds Dukung Hilirisasi Getah Pinus untuk Tingkatkan Nilai Tambah Hasil Hutan

banner 120x600
banner 336x280

Ponorogo – News PATROLI.COM –

Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds mendukung penguatan hilirisasi hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya getah pinus, melalui pemenuhan bahan baku industri pengolahan gondorukem dan terpentin.

“Hilirisasi industri getah pinus merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah hasil hutan sekaligus memperkuat keterkaitan antara pengelolaan hutan dan sektor industri. KPH Lawu Ds siap mendukung kebutuhan bahan baku pabrik melalui produksi getah pinus yang berkelanjutan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas,” kata Administratur Perhutani KPH Lawu Ds., Mada Yuwono Hadhi, disela-sela kunjungan kerja Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Edhie Baskoro Yudhoyono, bersama Direktur Utama Perum Perhutani, Tio Handoko, ke Pabrik Gondorukem dan Terpentin (PGT) Sukun, Kabupaten Ponorogo, Kamis (29/10).

Mada menyampaikan bahwa KPH Lawu Ds berkomitmen mendukung pengembangan industri hilir getah pinus melalui optimalisasi produksi, kesinambungan pasokan, dan peningkatan kualitas hasil sadapan. Sebagai salah satu pemasok bahan baku pabrik, KPH Lawu Ds memastikan kegiatan produksi berjalan optimal untuk memenuhi kebutuhan industri.

Ia menambahkan, penguatan hilirisasi juga berpeluang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama para penyadap yang terlibat langsung dalam rantai produksi getah pinus.

“Kami berharap sinergi antara Perhutani, industri pengolahan, dan seluruh pihak terkait semakin kuat. Dengan demikian, getah pinus tidak hanya menjadi komoditas hasil hutan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi, membuka peluang usaha, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan,” pungkasnya.

Sementara itu dalam kunjungannya di Pabrik PGT Sukun, Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, menyampaikan bahwa potensi sumber daya alam Indonesia perlu dioptimalkan melalui pengembangan industri hilir agar menghasilkan nilai tambah dan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar, termasuk sektor kehutanan. Potensi ini perlu dikelola secara optimal melalui pengembangan industri hilir agar menghasilkan nilai tambah, membuka peluang ekonomi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dari getah menjadi berkah, kita melihat bagaimana getah pinus dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung kegiatan industri dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengembangannya perlu terus didorong dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan,” terangnya.

Sementara Direktur Utama Perum Perhutani, Tio Handoko, menegaskan bahwa penguatan industri hilir getah pinus menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan potensi hasil hutan dan meningkatkan daya saing usaha, sejalan dengan komitmen Cipta Hutan Lestari.

“Perhutani terus mendorong penguatan produk hilir getah pinus melalui pengolahan menjadi gondorukem dan terpentin. Langkah ini menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah hasil hutan, memperkuat daya saing industri, dan mengembangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kehutanan.

Sejalan dengan semangat Cipta Hutan Lestari, kami berkomitmen mengelola potensi hutan secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan perusahaan, masyarakat, dan industri, dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya hutan,” ungkap Tio.

Penguatan industri hilir getah pinus ditopang oleh kegiatan penyadapan yang melibatkan masyarakat sekitar hutan. Perhutani mencatat lebih dari 61 ribu tenaga kerja penyadap di seluruh wilayah kerjanya. Kepastian ketersediaan bahan baku, peningkatan produktivitas penyadap, serta optimalisasi proses pengolahan menjadi faktor penting dalam membangun rantai usaha kehutanan yang produktif dan memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Melalui pengembangan industri hilir HHBK, Perhutani terus mengintegrasikan pengelolaan sumber daya hutan secara lestari, penguatan industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat untuk memperbesar kontribusi sektor kehutanan terhadap perekonomian.

Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri Kepala Divisi Regional Jawa Timur, Dewanto, beserta jajaran; General Manager Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Hasil Hutan Bukan Kayu (KBM IHHBK) Perum Perhutani Jawa Timur, Irmasari Churiana, beserta jajaran; Administratur KPH Lawu Ds, Mada Yuwono Hadhi, beserta jajaran; perwakilan KPH Madiun, Rusyidi; Kepala PGT Sukun, Slamet Asrofi, beserta tim; serta perwakilan penyadap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *