JMSI Bondowoso Hidupkan Kembali “Dolanan Tradisional”

banner 120x600
banner 336x280

Bondowoso – News PATROLI.COM –

Seiring perkembangan Jaman dan Teknologi, Permaian (Dolanan) Tradisional yang dimasa lalu menjadi varit anak anak seakan ikut tergerus dan ditinggalkan serta tergantikan oleh Gadget. Dolanan Tradisonal yang bukan hanya sekedar sebuah permainan melain sarana interaksi sosial bagi anak anak menjadi langka dan jarang dilihat di perkampungan terutama di perkotaan. Lorong lorongan kampung seakan sepi dan membisu.

Namun, ada fenomena yang beda saat kita menengok halaman TK Pembina Kecamatan/Kabupaten Bondowoso dipenuhi gelak tawa anak-anak, Kamis (23/7/2026). Seutas tali diputar bergantian, kotak-kotak engklek dipenuhi lompatan kaki mungil, sementara biji-biji dakon berpindah dari satu lubang ke lubang lain. Permainan (Dolanan) yang dulu menjadi bagian dari keseharian anak-anak itu kembali hidup dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026.

Momentum tersebut dimanfaatkan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Cabang Bondowoso bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan DPRD Bondowoso untuk mengajak anak-anak kembali mengenal permainan tradisional sekaligus mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan gawai sebagai teman utama anak.

Mengusung tema “Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” dengan subtema “Ayo Bermain Tanpa Gadget”, kegiatan diawali dengan edukasi parenting dari Dinas Sosial P3AKB Bondowoso. Setelah itu, sebanyak 100 siswa taman kanak-kanak diajak bermain lompat tali, engklek, dan dakon. Setiap anak yang berani mencoba permainan mendapatkan hadiah berupa perlengkapan sekolah.

Ketua JMSI Cabang Bondowoso, Bahrullah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Perkembangan teknologi memang tidak bisa kita nafikan. Namun, banyak cara mengasuh anak yang tidak bergantung pada gadget. Sekarang anak menangis sedikit langsung diberikan HP. Padahal, kita bisa mengajak mereka bermain permainan tradisional seperti lompat tali, engklek, maupun dakon,” katanya.

Menurut Bahrullah, media memiliki tanggung jawab sosial untuk menghadirkan informasi yang tidak hanya faktual, tetapi juga memberi nilai edukasi kepada masyarakat.

“Kami selaku insan pers berkewajiban menyajikan pemberitaan yang positif, edukatif, dan ramah anak. Kami berharap Hari Anak Nasional menjadi refleksi bagi kita semua sebagai orang tua untuk terus memperbaiki pola pengasuhan anak,” ujarnya.

Baca juga :  GP Ansor Cabang Kencong Gandeng Pemkab Jember Resmi Buka Pameran Lukisan Sepekan 2026 di Gedung Nusantara

Keceriaan terpancar dari wajah Tiara, siswi TK Alifiyah. Ia mengaku senang bisa bermain bersama teman-temannya sekaligus membawa pulang hadiah.

“Tadi main lompat tali dan dapat hadiah. Senang main sama teman-teman dan dapat hadiah,” katanya.

Bagi Kamalia, salah seorang wali murid, kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru tentang pentingnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.

“Banyak sekali ilmu yang didapat. Kita harus lebih dekat dengan anak karena keberadaan orang tua itu sangat dibutuhkan. Daripada anak-anak dibiarkan main gadget, lebih baik kita ajak bermain permainan jadul dan tradisional,” tuturnya.

Koordinator Komisi IV DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, mengapresiasi inisiatif JMSI Bondowoso yang mengangkat permainan tradisional sebagai tema utama peringatan Hari Anak Nasional.

Menurutnya, setiap permainan tradisional menyimpan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur dan patut dijaga di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Permainan anak-anak tradisional memiliki filosofi yang sangat luar biasa dan sekarang mulai ditinggalkan karena kemajuan teknologi. Kita akui anak-anak sudah bergantung pada HP. Ketika menjadi kebiasaan, itu tidak baik bagi masa depan mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan, menjaga permainan tradisional sama artinya dengan merawat sejarah dan identitas bangsa.
“Selalu ingat sejarah. Kita tidak bisa meninggalkan sejarah karena sejarah adalah akar terbentuknya masa depan yang lebih baik,” tegasnya.

Sementara itu, Perwakilan Bunda PAUD Kabupaten Bondowoso, Zakiyatul Fakhiroh As’ad, berharap kegiatan serupa terus dilakukan agar anak-anak memperoleh ruang bermain yang sehat sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka.

“Alhamdulillah kegiatan hari ini berjalan dengan lancar. Harapan ke depan semoga anak didik kita dapat tumbuh sesuai dengan cita-cita yang mereka impikan,” katanya.

Di tengah semakin akrabnya anak-anak dengan layar sentuh, permainan tradisional yang kembali dimainkan di Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar kenangan. Di dalamnya tersimpan ruang belajar, kebersamaan, sportivitas, dan keceriaan yang tidak bisa digantikan oleh sebuah gawai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *