Jember – News PATROLI.COM –
Pemerintah Desa Lojejer kembali menggelar Parade Culture Village Nusantara IV dengan tema Anuraga. Sabtu,29/08/2026, Kibaran Umbul-umbul berwarna Merah Putih berjarak 10 meter ditiap tiangnya sepanjang 3 kilometer seakan membangkitkan jiwa Nasionalisme para peserta kirab Parade Culture Village Nusantara IV Desa Lojejer, dentuman iringan musik getar membahana menambah semangat langkah peserta, sorotan warna-warni lighting menambah nuansa indah malam kirab budaya, 100 meter gelaran red karpet ikut serta membangkitkan semangat gerak gemulai peserta perform.
Hampir 1 juta pasang mata terpaku terpesona melihat gaun Budaya Bhinneka Tunggal Ika yang menempel di badan sekitar 1500 peserta Parade Culture Village Nusantara IV dalam memeriahkan HUT RI yang ke-81 yang diadakan yang ke 4 kalinya oleh Pemerintah Desa Lojejer, sorot tajam para petugas keamanan dari unsur TNI, POLRI dibantu Ormas yang ada di Desa Lojejer dan diwilayah kecamatan Wuluhan memikul tanggungjawab mengemban tugas demi memberikan rasa aman, nyaman dan kondusif berlangsungnya acara hingga purna.
Sabtu, 29/8/2026, Desa Lojejer benar-benar berubah menjadi panggung Budaya. Jalan Desa yang biasanya menjadi ruang aktivitas warga, kali ini dipenuhi masyarakat dari berbagai daerah dan usia yang rela berdiri berjam-jam demi menyaksikan kemeriahan Parade Culture Village Nusantara IV.
Bertemakan Anuraga memeliki makna arti yang dalam dikehidupan manusia. Kepala Desa Lojejer, Mohamad Sholeh, SH., MSi., N.P.L., menjelaskan bahwa Anuraga merupakan istilah dari bahasa Sansekerta yang menggambarkan cinta kasih yang mendalam, keterikatan, kasih sayang, kesetiaan dan pengabdian.
Anuraga itu merupakan cinta yang mendalam, keterikatan, penuh kasih sayang, kesetiaan dan pengabdian, anuraga kita ambil dari bahasa sansekerta,”tutur Sholeh saat diwawancarai awak media sebelum melepas peserta kirab Budaya.
Bagi Sholeh, makna tersebut ingin diterjemahkan dan di implementasikan dalam kehidupan masyarakat Desa Lojejer. Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ia berharap masyarakat dapat terus menjaga rasa saling mencintai, menghargai dan menyayangi.
Nilai tersebut juga diharapkan tumbuh kembang dalam hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat, sehingga pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan kehidupan sosial yang rukun dan harmonis antar keduanya.
“Dengan saling mencintai dan menghargai, kita bisa m memberikan kasih sayang dan pengabdian yang tinggi, baik kepada masyarakat maupun dalam kehidupan bersama,”imbuhnya.
Pesan tentang harmoni itu bahkan terlihat dari busana yang dikenakan Sholeh bersama istrinya. Keduanya tampil anggun menggunakan busana adat Jawa Barat dari daerah Ciamis, yakni Bebegig Sukamantri.
Menurut Sholeh, busana tersebut memiliki filosofi tentang hubungan manusia dengan alam dan kehidupan sosial.
“Baju bebegig ini untuk menjaga alam, jadi harmoni sosial agar supaya hidup rukun, damai untuk alam semesta,” pungkasnya.
Sementara itu dilain sisi awak media mengkonfirmasi, Ketua Koordinator Panitia Parade Culture Village Nusantara IV, Sugeng Hariadi, mengatakan karnaval pada 29 Agustus merupakan puncak dari seluruh rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Lojejer.
“Karnaval hari ini adalah puncaknya, setelah empat hari berturut-turut sejak tanggal 25 Agustus kemarin,” kata Sugeng.
Rangkaian kegiatan sebelumnya telah dimulai pada 25 Agustus melalui karnaval tingkat Himpaudi, TK dan PAUD. Sehari berikutnya, giliran peserta dari tingkat SD dan MI yang turut memeriahkan suasana.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan seni dan hiburan hingga akhirnya ditutup dengan parade umum yang melibatkan masyarakat Desa Lojejer.
Sebanyak 15 peserta turut ambil bagian dalam parade puncak acara. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai Pemerintah Desa, RW, sekolah, madrasah hingga MTs.
Yang menarik, setiap peserta tidak hanya berjalan dalam iring-iringan. Mereka membawa cerita masing-masing melalui kostum, atraksi dan drama kolosal sejarah.
Di depan tenda kehormatan, peserta menampilkan kisah tentang kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Sejarah yang selama ini hanya dikenal melalui buku pelajaran, kali ini dihidupkan kembali melalui kreativitas masyarakat.
Sorak-sorai warga pun pecah setiap kali peserta menampilkan atraksi terbaiknya, sejak titik pemberangkatan hingga garis finish, jalan Desa dipenuhi warga.
Anak-anak berdiri dengan penuh rasa ingin tahu. Para orang tua tak mau ketinggalan mengabadikan momen dengan telepon genggam. Sebagian warga bahkan memilih datang lebih awal agar mendapatkan tempat terbaik untuk menyaksikan parade.
Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa karnaval di Lojejer bukan hanya menjadi tontonan, tetapi telah menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat.
Disana, warga berkumpul, bercengkerama, bersilaturahmi dan menikmati hiburan bersama.
Kemeriahan pun sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran warga dan pengunjung membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk menjajakan makanan, minuman dan berbagai produk mereka di sepanjang lokasi kegiatan.
Dengan demikian, semangat kemerdekaan tidak hanya hadir melalui pertunjukan budaya, tetapi juga memberikan perputaran ekonomi bagi masyarakat.
Puncak Parade Culture Village Nusantara IV akhirnya menjadi penutup rangkaian acara perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Lojejer.
Suara musik boleh menggelegar, kostum boleh mencuri perhatian dan jalan desa boleh padat oleh warga. Namun pesan yang ingin ditinggalkan jauh lebih sederhana, kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika dirayakan bersama, dengan cinta, kasih sayang, persatuan, kesatuan dan pengabdian.
Itulah semangat Anuraga yang ingin ditanamkan Desa Lojejer, merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan kemeriahan, tetapi juga dengan menjaga persaudaraan dan keharmonisan untuk membangun desa bersama
















