Jember-News PATROLI.COM-
Sepoi angin pagi bertiup perlahan, lembut dan bersemilir berembus pelan menyapu bangkai gedung bangunan tua yang sakral. Di tempat yang dulu riuh oleh derit roda besi dan kepulan asap lokomotif Belanda bekas Stasion Goemoek Emas ratusan warga Purwoasri berkumpul dengan dada bergelora. Tanpa perintah formal dari dinas, tanpa tribune megah, mereka memilih merajut rasa nasionalisme di atas tanah bersejarah yang hampir terlupakan.
Dinding-dinding bata tua berplester kusam yang menjadi saksi bisu era kolonialisme, hari itu mendadak menjadi latar belakang yang megah. Ratusan warga dari berbagai generasi berdiri tegap memadati area pelataran stasiun. Raut wajah mereka menyiratkan kebanggaan yang mendalam, bentuk perpaduan antara penghormatan kepada para pejuang bangsa dan kerinduan akan jejak sejarah lokal mereka sendiri.
Cholimur Rosyid perwakilan pihak Desa Purwoasri yang memimpin jalannya upacara dengan ketegasan yang bersahaja. Dari tengah barisan, intonasi komandonya bergema keras menembus kesunyian bangunan tua tersebut.
“Kepada Sang Merah Putih, hormat gerak!,” Ujar Rosyid dengan lantang.
Seruan itu menyentak kesadaran setiap warga yang hadir. Bendera Merah Putih perlahan bergerak terkerek naik, perlahan berkibar cerah di antara langit biru dan rona kecokelatan bangunan peninggalan Belanda tersebut. Semua jemari terangkat ke dahi, pandangan terpaku tajam pada sang saka. Di bawah kepemimpinan Rosyid, upacara mandiri ini berlangsung khidmat dan penuh hidmat.
Saat mengamanatkan Upacara ini, Rosyid berpesan kepada seluruh masyarakat yang hadir baik tua maupun generasi muda. Untuk selalu menjaga dan merawat barang dan benda peninggalan nenek moyang termasuk bangunannya.
“Momentum kemerdekaan ini memang patut kita rayakan dan resapi. Makna kemerdekaan tidak hanya soal pribadi kita masing – masing, tetapi menjaga dan merawat stasiun gumuk mas ini tetap lestari ini juga bagian merawat kemerdekaan,” tegas Rosyid.
Upacara bendera mandiri di Stasion Goemoek Emas ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah cara masyarakat Purwoasri merawat ingatan publik, menghidupkan kembali bangunan tua peninggalan masa lalu dengan napas kemerdekaan, dan membuktikan bahwa jiwa patriotisme paling murni justru tumbuh mekar dari genggaman rakyat secara mandiri.
“Kami sengaja mengadakan dan mengajak masyarakat sekitar stasiun ini untuk melakukan upacara bendera. Peringatan 17 Agustus sebagai pemantik semangat masyarakat untuk selalu mencintai NKRI,” tutur M. Subur Ketua Panitia Upacara.
“Kami lakukan sebagai pengingat sejarah bagaimana bangsa ini merebut kemerdekaan dengan tumpahan darah dan air mata. Maka wajib bagi kita untuk menjaga dan merawatnya,” harapnya dengan mata berkaca- kaca.
Stasiun Goemoek Emas di Desa Purwoasri Kecamatan Gumukmas, Jember, dibangun oleh perusahaan kereta api kolonial Staatsspoorwegen dan resmi dibuka pada 25 Agustus 1927. Stasiun ini terletak di jalur kereta api nonaktif lintas Klakah–Lumajang–Balung–Rambipuji, yang ditutup pada tahun 1986 karena kalah bersaing dengan kendaraan jalan raya










