banner 700x256

Keluh Kesah Pedagang Ayam di Temuguruh Sempu

banner 120x600
banner 336x280

Banyuwangi, News PAROLI.COM –

Pasar tradisional untuk daging ayam di Indonesia, terutama di daerah seperti Genteng – Rogojampi, sedang mengalami tekanan berat dari pasar modern dan ritel besar. Pedagang kecil kesulitan bersaing karena harga ayam hidup melonjak (hingga Rp 35.000/kg baru-baru ini), sementara supermarket menawarkan harga lebih stabil melalui pasokan langsung dari perusahaan terintegrasi.

Berdasarkan konfirmasi Pedagang Ayam Kampung, Abdullah, 60, warga Parijatah Kulon Srono, hari Jumat, 08:16 pada News Patroli, menuturkan : “Pertama : kita membuat pasar nomaden (pindah-pindah, red) karena sewa tempat di pasar modern terlalu mahal, kedua : persaingan harga ayam potong 1 Kg saat ini margin harga ayam kampung dengan ayam potong terlalu signifikan/ jauh perbedaan ayam potong 1 kg Rp. 35.000,-, ayam kampung 1 kg sudah besar (jago, babon (induk, red), dari Gap inilah kita membuat komunitas pasar nomaden, ” Tandanya jelas

Baca juga :  DPC LPK-RI Kabupaten Blitar Soroti Kelangkaan LPG 3 Kg, Fenomena Tahunan Jelang Ramadan yang Terus Terulang

Penyebab Utama Kenaikan harga pakan ternak dan program pemerintah seperti MBG (Makan Bergizi Gratis, red) membuat pengelola pasar modern membeli ayam dari distributor besar dengan harga lebih murah, mengurangi suplai ke pedagang tradisional.

Perusahaan besar dialihkan ke RPHU (Rumah Pemotongan Hewan, red) untuk ayam potong beku, meninggalkan peternak kecil kesulitan menjual livebird di pasar becek..

Akibatnya, penjualan sepi, banyak kios tutup, dan PAD daerah turun karena retribusi pasar menurun.

Dampak Terkini Di Pasar Semi Genteng – Rogojampi, harga jual daging ayam mencapai Rp 35.000–Rp40.000/kg, membuat pembeli beralih ke ritel dan pedagang gulung tikar. **IR Rogojampi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *