Air Mata Penyesalan Mengalir di Balik Lantunan Lagu Para Penyintas Narkotika

Foto: Pimpinan YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba H. Abdul Kholiq saat membina vokal para pasien rehabilitasi
banner 120x600
banner 336x280

Sidoarjo – News PATROLI.COM –

Suasana haru menyelimuti proses pembinaan rehabilitasi sosial di YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba Desa Kajeksan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Lantunan lagu yang dinyanyikan para penyintas penyalahgunaan narkotika perlahan berubah menjadi ruang refleksi, membuka kembali kenangan masa lalu dan menghadirkan penyesalan yang selama ini tersimpan dalam hati, Senin (7/9/2026).

Di hadapan pembina, para penyintas tidak sekadar menyanyikan lagu. Mereka menghayati setiap bait dan lirik yang dilantunkan. Sebagian bahkan tak kuasa menahan air mata. Tetesan air mata mengalir di tengah suasana yang penuh keheningan, seolah menjadi ungkapan penyesalan atas perjalanan hidup yang pernah membawa mereka terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.

Momen tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan yang dilakukan Pimpinan YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba, H. Abdul Kholiq, dalam membangun kembali mental dan semangat para penyintas untuk meninggalkan masa lalu.

Bagi H. Abdul Kholiq, proses rehabilitasi tidak hanya berbicara mengenai bagaimana seseorang berhenti menggunakan narkotika. Lebih dari itu, rehabilitasi merupakan perjalanan panjang untuk mengembalikan kepercayaan diri, membangun kesadaran, memperkuat mental, serta menumbuhkan kembali harapan agar para penyintas mampu menjalani kehidupan secara produktif.

Melalui pembinaan vokal, para penyintas diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan. Musik menjadi media untuk menyentuh sisi emosional yang terkadang sulit diungkapkan melalui percakapan biasa.

Lantunan lagu seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada kenangan atas kesalahan yang pernah dilakukan. Namun di sisi lain, ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan memulai kehidupan baru.

Baca juga :  Pemkab Sidoarjo Bentuk Satgas Kawal Aspirasi Warga Terdampak Lumpur Lapindo

Air mata yang jatuh bukan berarti mereka lemah. Sebaliknya, tangisan tersebut dapat menjadi bagian dari proses kesadaran bahwa hidup masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki.

Penyesalan atas masa lalu diharapkan tidak berhenti sebagai kesedihan. Para penyintas terus diarahkan agar menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran sekaligus kekuatan untuk tidak kembali terjerumus pada penyalahgunaan narkotika.

Pembinaan yang dilakukan YPP Al Kholiqi juga menanamkan pesan bahwa seseorang tidak selamanya harus terjebak dalam label masa lalu. Mereka tetap memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan, dukungan, dan ruang untuk kembali membuktikan bahwa dirinya mampu berubah.

Dari balik tembok tempat rehabilitasi, harapan itu terus dibangun. Para penyintas didorong untuk menemukan kembali potensi dirinya, belajar bertanggung jawab, membangun hubungan sosial yang sehat, dan mempersiapkan diri agar mampu kembali ke tengah keluarga serta masyarakat.

H. Abdul Kholiq terus memberikan dorongan agar proses pemulihan dijalani dengan kesungguhan. Sebab, keberhasilan rehabilitasi bukan hanya ketika seseorang terbebas dari ketergantungan, tetapi juga ketika mampu menemukan kembali arah hidup dan memiliki keberanian untuk menatap masa depan.

Lantunan lagu pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar aktivitas pembinaan vokal. Ia berubah menjadi ruang untuk berdamai dengan masa lalu.

Di balik suara yang bergetar dan air mata yang menetes, tersimpan satu harapan: meninggalkan masa lalu, bangkit dari keterpurukan, dan kembali menjadi manusia yang berguna bagi keluarga serta masyarakat.

Karena masa lalu memang tidak dapat dihapus. Namun masa depan masih dapat ditulis dengan pilihan-pilihan yang lebih baik. (Gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *