banner 700x256

Genjot PAD, Bapenda Kabupaten Mojokerto Gelar Sosialisasi Khusus Sektor BPHTB

banner 120x600
banner 336x280

Mojokerto, Newspatroli.com

Dalam upayanya untuk memperkokoh langkah dan sinergitas serta komunikasi yang baik antara Pemkab Mojokerto dengan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) didalam upayanya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka Pemerintah Kabupaten Mojokerto dengan leading Sektor Badan Pendapatan Daerah menggelar Sosialisasi Optimalisasi PAD Khususnya Sektor Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB di Hotel Royal Trawas, Kabupaten Mojokerto, (21/6/2022) lalu itu diikuti sebanyak 132 Peserta masing-masing 122 PPAT dan 10 camat yang telah mendapatkan sertifikat PPAT.

Dalam sambutannya, Bupati dr. Ikfina Fahmawati Didampingi Kepala Bapenda Kabupaten Mojokerto, Mardiasih SH MM, mengatakan bahwa kegiatan kali ini menjadi penting bagi Pemkab Mojokerto untuk mewujudkan kemandirian fiskal. Mengingat, Kabupaten Mojokerto sendiri tidak banyak memiliki anggaran.

“Kabupaten Mojokerto hanya memiliki anggaran Rp.2,4 Triliun. Sementara Sidoarjo dan Gresik lebih dari Rp.3 Triliun. Kalau Surabaya lebih dari Rp.10 Triliun, hal tersebut itulah yang membuat Kabupaten Mojokerto masih jauh dalam kemandirian fiskal,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Ikfina, saat ini BPK maupun KPK tidak hanya mengawasi penggunaan anggaran, tapi juga pemasukan daerah, hal ini menuntut Pemda bekerja keras karena KPK sangat tegas dalam hal yang seharusnya masuk dalam uang negara. Apalagi Kabupaten Mojokerto saat ini juga sangat bergantung dengan dana transfer dari pusat.

“Ketika daerah masih bergantung pada dana transfer dari pusat, ketika pusat kesulitan keuangan sehingga mengurangi transfer ke daerah, maka daerah mengalami kesulitan,” jelas Bupati Ikfina.

Baca juga :  Ketua DPD Partai NASDem Lampura Imam Syuhada Sambut Anggota DPR RI Komisi IX Rahmawati Herdian

Orang nomor satu dilingkup Pemkab ini mengatakan, hingga saat ini Kabupaten Mojokerto masih jauh dari mandiri di bidang fiskal. Karena PAD Kabupaten Mojokerto masih di angka 20 persen dari APBD sekitar Rp.2,4 triliun per tahun dan 80 persen APBD bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat.

“PAD itu setidaknya 50 persen dari anggarannya agar lebih leluasa penggunaannya. Kalau PAD tinggi, daerah akan leluasa memakai PAD untuk pengembangan daerahnya sendiri,” terangnya.

Ikfina juga menjelaskan, kemandirian fiskal tercapai jika PAD mengalami kenaikan ke angka 50 persen dari APBD setiap tahunnya. Seperti tahun 2021, PAD Kabupaten Mojokerto naik dari Rp 500 miliar lebih menjadi Rp.600 miliar lebih.

“Semakin berkembangnya daerah ini sejalan dengan semakin meningkatnya PAD,” tandasnya.

Ikfina meyakini Kabupaten Mojokerto mempunyai banyak potensi untuk mendongkrak PAD. Pemkab sendiri telah berupaya melakukan seperti pembangunan jalan untuk menaikkan harga tanah sehingga nilai pajak bumi dan bangunan meningkat.

“Kemudian menciptakan sistem nontunai untuk pembayaran pajak dan retribusi daerah, kemudian memungut pajak hasil tambang dari galian C ilegal, ini yang penting kita lakukan. Selain itu juga masyarakat juga harus ditingkatkan kesadarannya untuk membayar pajak,” pungkasnya.( Safiul Anam )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *