Jember – News PATROLI.COM –
Kerusakan parah pada proyek pembangunan dan pelimpah Dam Kali Tanggul yang ada diwilayah Desa Paseban Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, Jawa Timur memicu keluhan berat dari masyarakat sekitar.
Proyek yang menelan anggaran yang sangat fantastis mencapai Rp15,6 miliar tersebut dinilai tidak berfungsi sama sekali dan justru mengakibatkan hektaran lahan pertanian milik warga mengalami kekeringan hebat.
Dampak dari tidak berfungsinya bendungan ini dirasakan langsung oleh para petani di wilayah terdampak, salah satunya di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas , Kabupaten Jember, pasokan air yang seharusnya terdistribusi melalui bendungan tersebut sama sekali tidak mengalir ke petak-petak sawah milik petani.
Ketua KPMK,(Kelompok Perjuangan Masyarakat Kepanjen) Arif Sukoco, mengatakan rasa kekecewaannya atas rusaknya infrastruktur yang menyerap dana APBD dalam jumlah besar tersebut.
Menurutnya, proyek yang dirancang untuk mengatasi masalah banjirsekaligus kekeringan di dua desa ini gagal total dalam memberikan manfaat bagi masyarakat dan petani Khususnya.
“Intinya begini, Kami sebagai perwakilan dari petani tidak mau mencari siapa yang salah, entah itu PUFDA atau pemborongnya. yang jelas, kami tahu ini proyek gagal karena sudah tidak sesuai dengan fungsi dan manfaatnya,” ujar Arif Sukoco saat memberikan keterangannya, Jumat,(28/8/2026).
Arif menegaskan bahwa anggaran sebesar Rp15,6 miliar merupakan nilai yang sangat fantastis, namun ironisnya tidak memberikan dampak positif sedikit pun bagi keberlangsungan ke para petani.
Oleh karena itu, para petani mendesak pihak-pihak terkait untuk segera mengambil tindakan nyata agar Dam tersebut dapat difungsikan sebagaimana mestinya.
“Dana 15,6 miliar itu luar biasa besar, sangat fantastis. Namun yang kami sayangkan, dampak dan manfaat yang dirasakan oleh petani itu sama sekali tidak ada. Keinginan kami hanya satu, dam tersebut harus segera direalisasikan sesuai dengan tujuan utamanya untuk menanggulangi kekeringan dan kebanjiran,” tutup Arif Sukoco
Hingga berita ini diturunkan, para petani berharap instansi teknis terkait serta pihak pelaksana proyek segera turun ke lapangan untuk melakukan perbaikan permanen, guna menyelamatkan lahan pertanian warga dari ancaman gagal panen yang lebih luas.










